Mom : Kamu kenapa,
Nduk? Cerita, ya. Nangisnya dihabiskan dulu, habis itu cerita, ya.
Me : Aku
ditinggal. Dia ninggalin aku. Aku harus gimana?
Mom : Kenapa? Ada
masalah apa?
Me : Katanya,
karena aku yang ninggalin dia duluan. Dua kali, aku melewati batas yang dia
tetapkan di awal. Dia nggak bisa lagi sama aku, dia sudah nggak sanggup lagi.
Mom : Kamu sudah
minta maaf?
Me : Sudah. Aku
sudah minta maaf. Aku sadar betul aku yang salah. Aku yang membuat semuanya
menjadi kacau balau begini. Aku menyakitinya, aku membuat dia kecewa, membuat
dia sangat marah. Aku menyesal, aku akan menyesali ini seumur hidup.
Mom : Cah ayu,
sudah baik kamu mengakui kesalahanmu. Jangan diulang lagi. Jangan pernah
diulangi lagi. Tapi namanya orang memaafkan butuh proses, butuh waktu. Kamu juga
harus bisa memaafkan dirimu sendiri dulu. Dia, Nduk, bebannya dua kali lipat.
Dia harus memaafkanmu, juga memaafkan dirinya sendiri. Kamu cuma satu, tapi dia
dua.
Me : Mungkin
aku memang nggak pernah cukup buat dia. Aku kurang cantik, kurang baik, kurang
pintar, kurang berilmu, bahkan aku nggak punya apa-apa.
Mom : Lho, Nduk.
Kok kamu malah salah kaprah. Bukan itu, sama sekali bukan itu kan masalahnya?
Me : Dia bilang
aku nggak nurut. Aku ngeyel, dan susah diajari. Dia sudah nggak tahan.
Mom : Lha betul.
Dia betul. Kamu memang paling ngeyel, maunya menang sendiri. Kan dulu sudah
dikasih tau, hatinya dsiapkan, imannya diteguhkan, tingkah laku dan tuturnya
dibenahi, untuk menjadi pendamping yang baik. Mungkin memang harus begini
jalannya, Nduk, supaya kamu sadar.
Me : Dia bilang
aku selalu nunda-nunda dan telat. Aku nggak pernah bisa melunasi janji-janji.
Mom : Lha itu juga
betul. Dia betul. Kalau begitu, mulai sekarang dibenahi. Kalau benar dia itu digariskan
sama kamu, kamu sudah harus jadi lebih baik, nggak nunda-nunda, nggak telat
lagi.
Me : Tapi dia
sudah nggak sayang lagi sama aku.
Mom : Namanya cinta
itu begitu. Cinta itu bukan cuma sayang. Kadang-kadang cinta itu rasa marah,
jengkel, sakit hati, bahkan benci. Kalau dia nggak betul-betul cinta sama kamu,
dia nggak akan sampai begini.
Me : Tapi dia
ninggalin aku. Kalau dia cinta, kenapa dia ninggalin aku?
Mom : Cah ayu, dia
ninggalin kamu karena kamu ninggalin dia duluan? Kamu ninggalin dia atau enggak?
Me : Enggak.
Aku nggak ninggalin dia. Sungguh-sungguh aku menyesal karena bicara ngawur.
Tapi aku nggak ninggalin dia. Aku nggak pernah ada niatan meninggalkannya. Sekarang
pun aku masih nggak ke mana-mana, aku nggak ninggalin dia.
Mom : Yasudah to
kalau begitu. Memang harus begini jalannya. Ini namanya ujian. Sekarang dipasrahkan sama Gusti
Allah. Perkara semacam ini, bukan lagi kuasa kita, Nduk. Tapi tetep, jangan
berhenti berusaha, meski usahamu hanya bisa sebatas doa-doa. Supaya dia mau
memaafkan kamu dan dirinya sendiri. Kamu juga harus mulai memaafkan dirimu
sendiri. Cuma Gusti Allah yang bisa melunakkan yang keras, mencairkan yang
beku, dan menghangatkan lagi yang sudah dingin.
Me : Apa dia
akan pulang padaku lagi?
Mom : Nggak ada
yang tau. Nggak ada yang pernah tau. Rahasia masa depan itu miliknya Gusti
Allah. Berdoalah begini, Ya Tuhanku, jika dia memang Kau gariskan untukku,
dekatkanlah, mudahkanlah. Jika bukan, berikanlah aku pengganti yang lebih baik.
Me : Aku dapat
petunjuk untuk menunggunya pulang. Aku cuma bisa yakin, aku cuma punya yakin.
Mom : Lho, yakin
juga baik. Tapi harus dipasrahkan. Boleh berusaha, tapi bagian menentukan hasil
itu jatahnya Gusti Allah.
Me : Aku boleh
nungguin dia?
Mom : Boleh, Nduk.
Tapi jangan berharap. Dan ingat, menunggu itu hanya untuk orang-orang yang kuat
tekadnya. Kamu juga harus kuat. Jangan sakit, jangan nangis terus.
Me : Iya.
Mom : Kamu juga
harus ikhlas. Harus. Meskipun kamu bertekad menunggu, kamu juga harus ikhlas. Semua
hal di dunia ini bukan milik kita, semuanya cuma titipan, Nduk.
Me : Tapi aku
benar-benar sangat sayang. Aku harus gimana untuk ikhlas? Susah sekali.
Mom : Lho nggak ada
yang bilang kalau gampang. Ikhlas itu memang paling susah. Tapi kamu nggak
boleh menyerah. Ikhlas itu rela. Ikhlas itu tidak memaksakan diri. Ikhlas itu
membebaskan hal yang paling kita inginkan.
Me : Seperti
ajaran Budha?
Mom : Mungkin.
Me : Kalau dia
tidak pulang bagaimana?
Mom : Berarti kamu
memang bukan rumahnya. Nggak bisa dipaksa, Nduk. Gusti Allah yang ngasih jalan,
Gusti Allah yang ngasih ketetapan. Makanya jangan berharap, ya. Jadi kamu nggak
akan sakit hati, kalau akhirnya dia memang bukan buat kamu.
Me : Iya. Aku
sungguh ingin pasrah dan ikhlas.
Mom : Pelan-pelan,
Nduk. Semua butuh proses. Jangan takut, kami bantu bawakan bebanmu. Kami pun
sudah sangat sayang sama dia. Tapi nggak ada yang bisa dipaksakan. Kalau benar
dia anak lanangnya kami, Masmu, ya, dia akan menemukan jalan pulangnya. Yang selalu
kami sebut di setiap doa, Nduk, bukan cuma namamu, namanya pun sudah selalu kami
sebut di setiap doa.
Me : Kalian
kecewa sama dia?
Mom : Enggak. Kami
nggak kecewa. Kalian sudah dewasa. Kami tidak tau apa-apa. Kami yakin kok kalau
dia baik. Sekarang, dia juga pasti menuruti kata hatinya. Cinta itu memang
begitu, Nduk. Membingungkan. Wolak-walik
ing ati.
Me : Dia juga
bilang kalau kalbu itu ada dua sisi.
Mom : Lha betul.
Itu betul. Kamu sendiri juga selalu keras sama kami, supaya tidak melihat dari
satu sudut pandang. Kamu juga harusnya bisa begitu. Jangan dirasakan dari satu
sisi. Dia sedang sangat marah sama kamu, Nduk. Ya itu caranya mencintaimu.
Me : Aku sangat
sayang sama dia.
Mom : Iya, Nduk,
kami juga sayang sama dia. Tapi kamu juga harus sayang sama dirimu sendiri.
Sekarang, bebaskan hatinya, bebaskan hatimu. Dijalani dengan sabar dan ikhlas.
Pelan-pelan saja. Gusti Allah pasti maringi jalan, kalau memang dia untukmu. Perbaiki
dirimu, dia juga sedang memperbaiki dirinya. Beri makan jiwamu, badanmu, biar tetap cantik luar dalam.
Kami menangis dan berpelukan sampai pagi. Sampai dadaku terasa
sesak sekali.
Kini aku ingat, orang pertama yang kata-katanya selalu
kukagumi dan ingin kutuliskan adalah ibu. Dalam ucapannya hanya terkandung
kejujuran dan kedamaian. Dan yang kedua, adalah kamu, Mas. Aku menyesal karena sebegini
terlambat, sebegini bodoh sampai baru mengerti. Sungguh-sungguh aku meminta
1001 maaf padamu.
Aku menunggu tapi tidak boleh
berharap. Aku sangat sayang tapi harus melepaskan. Membingungkan. Pelan-pelan, kucerna
pelan-pelan, kujalani pelan-pelan. Hanya satu hal yang sudah aku mengerti, aku
harus menghaturkan terima kasih tanpa putus-putus padamu. Kamu membuatku pulang
kembali, pada banyak rumah yang sempat kulupakan. Matur nuwun, Mas.
Jika dimampukan, pulanglah, Mas.
Kami menunggumu pulang lagi.