Wednesday, November 2, 2016

Berjuanglah Bersamaku

Masih sudikah kamu berjuang bersamaku? 

Kita pernah bersama menggambari tembok-tembok dengan ambisi. Kita pernah merangkai kata per kata sambil saling percaya. Kita pernah, berdua, mencecap malam-malam dingin yang panas. Kita pernah saling menangis, kamu di dadaku, aku di dadamu. Kita pernah berbagi sebungkus indomie untuk makan malam karena hanya itu yang tersisa. Kita sekuat itu. 

Kita pernah berikrar akan terus berjuang, bersama-sama mewujudkan mimpi kita meski rintangan yang ada seperti tak berujung. Aku masih sangat membutuhkanmu, menginginkanmu. Apakah kamu pun begitu?

Aku masih bersedia bermimpi bersamamu, sekali lagi, merawat mimpi-mimpi kita dan mewujudkannya. Akan tetapi, masih sudikah kamu sekali lagi bermimpi bersamaku, merawat mimpi kita dan mewujudkannya? 

Masih sudikah kamu berjuang bersamaku, Mas?

Thursday, October 27, 2016

Surat-surat yang Tak Akan Kukirimkan

Mencintaimu adalah hal yang sederhana. Menerima kekuranganmu adalah tantangan. Mencintai kekuranganmu adalah hal yang sulit tapi aku tetap mau melakukannya. Kukira, hanya berhenti di situ. Ternyata ada yang lebih sulit, yaitu menerima bahwa kamu tidak bisa melakukan hal yang sama padaku. Kamu berhenti mencintaiku, menginginkanku, dan membutuhkanku. 

Aku selalu ingin melakukan hal-hal kecil hingga yang besar, bersamamu. Aku ingin memakan pisang goreng saat hujan bersamamu, aku ingin membuat sebuah galeri seni rupa bersamamu. Tapi aku terlalu takut dan pesimis, terlalu lambat dan sering menunda. 

Hingga kamu pun merasa tak lagi menginginkanku, membutuhkanku, mencintaiku. Seberapa banyak pun rasa sesal dan usahaku untuk memperbaiki diri, kamu tidak akan mau kembali. Katamu, mungkin saja kita hanya halte bagi satu sama lain, pemberhentian sementara. 

Aku rela menjadi gelandangan untuk bisa tinggal di haltemu. Tapi aku tidak akan membiarkan kamu merasa tidak nyaman. Kamu harus mendapat rumah yang layak. Jika benar aku hanya halte bagimu, maka tak akan kuizinkan kamu tinggal meski kamu mau. 

Dan aku memacu diriku sendiri, agar bisa menjadi sebuah rumah tempatmu pulang, bukan sekadar menjadi haltemu. Lalu pikiran itu datang tiba-tiba. Ah, mungkin, memang aku tidak pernah cukup untukmu. Mungkin memang aku hanya selalu mengecewakanmu. Mungkin aku memang tidak mampu membuatmu nyaman dan bahagia. Aku tidak ingin membelenggumu. Aku mau kamu mendapatkan yang terbaik.  
 
Kutuliskan surat-surat yang tak akan kukirimkan. Kuberikan seluruhku di dalamnya. Aku berharap kamu bisa membaca jiwaku melalui itu, bahwa aku hanya jatuh cinta padamu, tanpa pernah ingin memaksamu menerimaku sebagaimana diriku. Aku pun tak pernah bisa menerima diriku sendiri. 

Kutuliskan surat-surat yang tak akan kukirimkan. Kuberikan seluruhku di dalamnya. Aku berharap kamu bisa membaca ruhku melalui itu, bahwa aku menunggumu karena separo diriku telah kupersembahkan padamu. Aku tidak pernah genap lagi tanpamu.

Tapi, surat-surat itu tak akan pernah kamu baca.

Tuesday, October 25, 2016

Kinci dan Albert Camus

Seorang kawan berulang tahun. Aku membawa beberapa potong kue, menuju selatan. Aku begitu merindukanmu dan Kinci. Tak mungkin aku mengatakannya padamu, tak mungkin aku minta bertemu denganmu, maka kuputuskan untuk menemui Kinci. 

Lalu ketidaksengajaan terjadi. Ada kamu di selatan. Sedang makan dengan lahap. Aku membuatkan secangkir kopi dengan penuh kerinduan, yang mungkin bagimu tidak berarti apa-apa. Kita berbincang hal-hal ringan. Lalu, aku bertemu Kinci dan saling berbisik. Kami membicarakanmu. 

Detik itu, hingga ketika aku kembali lagi menuju utara, aku tak henti-hentinya bersyukur. Tanpa sengaja bertemu denganmu dan mendapati kamu sehat pun aku sudah sangat bahagia. 

Kamu bilang, kamu merasa dikecewakan berulang kali. Aku bahkan tak sanggup berucap maaf di hadapanmu karena merasa begitu menyesal. Aku sungguh ingin menebusnya, mengambili kecewamu satu persatu sampai habis. Aku ingin menukar kecewamu, sedikit demi sedikit dengan apa saja yang bisa kuberikan. Jika memang butuh beribu tahun untuk menuntaskannya, aku akan melakukannya hingga sudah tidak mampu lagi. 

Kutitipkan pesan pada Kinci untuk menjagamu. 

Sesampainya di utara, tak kusangka aku sedikit terluka ketika membaca kutipan Albert Camus yang kamu tuliskan, “She was waiting but she didn’t know fo what. She was aware only of her solitude and of the penetrating cold...” Aku tak punya hak apa-apa untuk merasa terluka. Sama sekali tidak. Meski kukatakan dengan sungguh-sungguh padamu bahwa aku menunggumu karena kita adalah mimpiku, kamu tetap tidak akan percaya. Meski kukatakan padamu bahwa aku tidak peduli pada kesendirianku, bahwa semua yang kupikirkan adalah kamu dan kita, kamu tetap tidak akan percaya. Prasangkamu tidak akan bisa kulawan, mungkin juga sebenarnya tidak perlu. Biarlah begitu. Asalkan kamu bahagia, Mas. 

Maka kutawar sendiri sakitku, dengan mengingatmu yang ceria tadi. Senyum dan tawamu kucuri diam-diam melalui ekor mataku, lalu kulekatkan dalam pikiran. Kuputar sewaktu-waktu aku butuh alasan kenapa aku harus tetap kuat. 

Aku pun kembali bersyukur. Sampai pagi, aku tidak bisa tidur. Ah, sungguh-sungguh ketidaksengajaan yang membahagiakan.

Monday, October 24, 2016

Kisah Sebuah Kasur

Suatu hari saat aku masih semester awal, aku berikrar pada diriku sendiri untuk tidak akan membeli kasur baru sampai aku lulus supaya aku tidak manja dan tidak makin malas. Setelah kamu menyusup di hidupku, diam-diam aku sering terjaga saat kamu tertidur pulas. Kupijat punggung dan tanganmu, wajahmu letih sekali namun polos seperti baru lahir. Pada jam-jam kita terjaga, aku selalu sulit mencari-cari matamu. Maka saat kamu terlelap, kupandangi mata itu. Keduanya terkatup rapat, tapi dari sana pun selalu kutemukan bunga-bunga matahari yang mekar, cantik sekali. 

Maka kutuliskan sebuah sajak untukmu karena matamu seperti bunga matahari. Kusimpan rapi dalam folderku.

Berkali-kali, kulakukan hal yang sama, memandangimu diam-diam saat kamu tertidur pulas. Hanya saat kamu tertidur pulas, karena jika tidurmu setengah jadi, kamu selalu mudah terbangun meski hanya karena suara halaman buku yang dibalik. Setahun berlalu, aku sudah pindah kamar tapi masih dengan kasur yang sama. Kamu sering tertidur di sana. 

Dan satu malam saat aku memijat punggung dan tanganmu, kamu tertidur pulas seperti biasa, bunga-bunga matahari itu terlihat lelah sekali. Pekerja keras kesayanganku harus istirahat dengan nyaman. Maka kuputuskan, akan kubeli sebuah kasur yang lebih besar dan lebih empuk, agar tidurmu nyaman. 

Aku miskin sekali, sekadar membeli kasur pun harus menabung begitu lama. Pada akhirnya, sebuah kasur terbeli. Juga harapan agar bunga-bunga matahari di matamu tumbuh subur. Sayangnya, kamu memilih pergi. Dan kasur itu, yang baru kubeli, hanya menampung penyesalan-penyesalanku, serta berkarung-karung rasa bersalah yang kujadikan selimut pada malam-malam tanpamu. 

Friday, October 21, 2016

Jarak

Mom     : Kamu kenapa, Nduk? Cerita, ya. Nangisnya dihabiskan dulu, habis itu cerita, ya.
Me         : Aku ditinggal. Dia ninggalin aku. Aku harus gimana?
Mom     : Kenapa? Ada masalah apa?
Me         : Katanya, karena aku yang ninggalin dia duluan. Dua kali, aku melewati batas yang dia tetapkan di awal. Dia nggak bisa lagi sama aku, dia sudah nggak sanggup lagi.
Mom     : Kamu sudah minta maaf?
Me         : Sudah. Aku sudah minta maaf. Aku sadar betul aku yang salah. Aku yang membuat semuanya menjadi kacau balau begini. Aku menyakitinya, aku membuat dia kecewa, membuat dia sangat marah. Aku menyesal, aku akan menyesali ini seumur hidup.
Mom     : Cah ayu, sudah baik kamu mengakui kesalahanmu. Jangan diulang lagi. Jangan pernah diulangi lagi. Tapi namanya orang memaafkan butuh proses, butuh waktu. Kamu juga harus bisa memaafkan dirimu sendiri dulu. Dia, Nduk, bebannya dua kali lipat. Dia harus memaafkanmu, juga memaafkan dirinya sendiri. Kamu cuma satu, tapi dia dua.
Me         : Mungkin aku memang nggak pernah cukup buat dia. Aku kurang cantik, kurang baik, kurang pintar, kurang berilmu, bahkan aku nggak punya apa-apa.
Mom     : Lho, Nduk. Kok kamu malah salah kaprah. Bukan itu, sama sekali bukan itu kan masalahnya?
Me         : Dia bilang aku nggak nurut. Aku ngeyel, dan susah diajari. Dia sudah nggak tahan.
Mom     : Lha betul. Dia betul. Kamu memang paling ngeyel, maunya menang sendiri. Kan dulu sudah dikasih tau, hatinya dsiapkan, imannya diteguhkan, tingkah laku dan tuturnya dibenahi, untuk menjadi pendamping yang baik. Mungkin memang harus begini jalannya, Nduk, supaya kamu sadar.
Me         : Dia bilang aku selalu nunda-nunda dan telat. Aku nggak pernah bisa melunasi janji-janji.
Mom     : Lha itu juga betul. Dia betul. Kalau begitu, mulai sekarang dibenahi. Kalau benar dia itu digariskan sama kamu, kamu sudah harus jadi lebih baik, nggak nunda-nunda, nggak telat lagi.
Me         : Tapi dia sudah nggak sayang lagi sama aku.
Mom     : Namanya cinta itu begitu. Cinta itu bukan cuma sayang. Kadang-kadang cinta itu rasa marah, jengkel, sakit hati, bahkan benci. Kalau dia nggak betul-betul cinta sama kamu, dia nggak akan sampai begini.
Me         : Tapi dia ninggalin aku. Kalau dia cinta, kenapa dia ninggalin aku?
Mom     : Cah ayu, dia ninggalin kamu karena kamu ninggalin dia duluan? Kamu ninggalin dia atau enggak?
Me        : Enggak. Aku nggak ninggalin dia. Sungguh-sungguh aku menyesal karena bicara ngawur. Tapi aku nggak ninggalin dia. Aku nggak pernah ada niatan meninggalkannya. Sekarang pun aku masih nggak ke mana-mana, aku nggak ninggalin dia.
Mom     : Yasudah to kalau begitu. Memang harus begini jalannya. Ini namanya ujian. Sekarang dipasrahkan sama Gusti Allah. Perkara semacam ini, bukan lagi kuasa kita, Nduk. Tapi tetep, jangan berhenti berusaha, meski usahamu hanya bisa sebatas doa-doa. Supaya dia mau memaafkan kamu dan dirinya sendiri. Kamu juga harus mulai memaafkan dirimu sendiri. Cuma Gusti Allah yang bisa melunakkan yang keras, mencairkan yang beku, dan menghangatkan lagi yang sudah dingin.
Me         : Apa dia akan pulang padaku lagi?
Mom     : Nggak ada yang tau. Nggak ada yang pernah tau. Rahasia masa depan itu miliknya Gusti Allah. Berdoalah begini, Ya Tuhanku, jika dia memang Kau gariskan untukku, dekatkanlah, mudahkanlah. Jika bukan, berikanlah aku pengganti yang lebih baik.
Me         : Aku dapat petunjuk untuk menunggunya pulang. Aku cuma bisa yakin, aku cuma punya yakin.
Mom     : Lho, yakin juga baik. Tapi harus dipasrahkan. Boleh berusaha, tapi bagian menentukan hasil itu jatahnya Gusti Allah.
Me         : Aku boleh nungguin dia?
Mom     : Boleh, Nduk. Tapi jangan berharap. Dan ingat, menunggu itu hanya untuk orang-orang yang kuat tekadnya. Kamu juga harus kuat. Jangan sakit, jangan nangis terus.
Me         : Iya.
Mom     : Kamu juga harus ikhlas. Harus. Meskipun kamu bertekad menunggu, kamu juga harus ikhlas. Semua hal di dunia ini bukan milik kita, semuanya cuma titipan, Nduk.
Me         : Tapi aku benar-benar sangat sayang. Aku harus gimana untuk ikhlas? Susah sekali.
Mom     : Lho nggak ada yang bilang kalau gampang. Ikhlas itu memang paling susah. Tapi kamu nggak boleh menyerah. Ikhlas itu rela. Ikhlas itu tidak memaksakan diri. Ikhlas itu membebaskan hal yang paling kita inginkan.
Me         : Seperti ajaran Budha?
Mom     : Mungkin.
Me         : Kalau dia tidak pulang bagaimana?
Mom     : Berarti kamu memang bukan rumahnya. Nggak bisa dipaksa, Nduk. Gusti Allah yang ngasih jalan, Gusti Allah yang ngasih ketetapan. Makanya jangan berharap, ya. Jadi kamu nggak akan sakit hati, kalau akhirnya dia memang bukan buat kamu.
Me         : Iya. Aku sungguh ingin pasrah dan ikhlas.
Mom     : Pelan-pelan, Nduk. Semua butuh proses. Jangan takut, kami bantu bawakan bebanmu. Kami pun sudah sangat sayang sama dia. Tapi nggak ada yang bisa dipaksakan. Kalau benar dia anak lanangnya kami, Masmu, ya, dia akan menemukan jalan pulangnya. Yang selalu kami sebut di setiap doa, Nduk, bukan cuma namamu, namanya pun sudah selalu kami sebut di setiap doa.
Me         : Kalian kecewa sama dia?
Mom     : Enggak. Kami nggak kecewa. Kalian sudah dewasa. Kami tidak tau apa-apa. Kami yakin kok kalau dia baik. Sekarang, dia juga pasti menuruti kata hatinya. Cinta itu memang begitu, Nduk. Membingungkan. Wolak-walik ing ati.
Me         : Dia juga bilang kalau kalbu itu ada dua sisi.
Mom     : Lha betul. Itu betul. Kamu sendiri juga selalu keras sama kami, supaya tidak melihat dari satu sudut pandang. Kamu juga harusnya bisa begitu. Jangan dirasakan dari satu sisi. Dia sedang sangat marah sama kamu, Nduk. Ya itu caranya mencintaimu.
Me         : Aku sangat sayang sama dia.
Mom     : Iya, Nduk, kami juga sayang sama dia. Tapi kamu juga harus sayang sama dirimu sendiri. Sekarang, bebaskan hatinya, bebaskan hatimu. Dijalani dengan sabar dan ikhlas. Pelan-pelan saja. Gusti Allah pasti maringi jalan, kalau memang dia untukmu. Perbaiki dirimu, dia juga sedang memperbaiki dirinya. Beri makan jiwamu, badanmu, biar tetap cantik luar dalam.

Kami menangis dan berpelukan sampai pagi. Sampai dadaku terasa sesak sekali.

Kini aku ingat, orang pertama yang kata-katanya selalu kukagumi dan ingin kutuliskan adalah ibu. Dalam ucapannya hanya terkandung kejujuran dan kedamaian. Dan yang kedua, adalah kamu, Mas. Aku menyesal karena sebegini terlambat, sebegini bodoh sampai baru mengerti. Sungguh-sungguh aku meminta 1001 maaf padamu.

Aku menunggu tapi tidak boleh berharap. Aku sangat sayang tapi harus melepaskan. Membingungkan. Pelan-pelan, kucerna pelan-pelan, kujalani pelan-pelan. Hanya satu hal yang sudah aku mengerti, aku harus menghaturkan terima kasih tanpa putus-putus padamu. Kamu membuatku pulang kembali, pada banyak rumah yang sempat kulupakan. Matur nuwun, Mas.

Jika dimampukan, pulanglah, Mas. Kami menunggumu pulang lagi.

Sunday, April 17, 2016

Reuni

Menaiki kereta yang berbeda, seringkali membuat kami kebingungan saat saling bertemu di stasiun.

Entah mana yang lebih cepat mana yang lebih lambat. Mungkin juga ini hanya perkara perbedaan arah. Mereka mengamini beberapa hal yang tidak aku iyakan. Prespektif kami mulai menyebar dan sulit menetap pada satu sudut. Membuat saling kebingungan.

Meski begitu, aku tetap mau saling bertegur sapa. Rindu pada hal lama seringkali membuat kering diri sendiri. Bukankah begitu?

Lagi pula, saling bersua membuat kami tumbuh. Dan semoga lebih baik, tentu saja baik dalam perspektif masing-masing. Kami pernah saling berbagi banyak hal sepuluh tahun silam. Semoga berkah. Sampai jumpa lagi di lain waktu kawan-kawan. Kudoakan kesuksesan melingkar-lingkar pada setiap langkah kalian.

Thursday, February 25, 2016

Apakah kamu juga mengingatku?

Setiap kali rasa hangat muncul, maka aku mengingatmu.

...pada semangkuk bubur ayam jam 6 pagi, pada terang setelah hujan, ketika memakai sarung tangan, pada secangkir teh, ketika berdiri dekat kompor, juga ketika dipeluk seorang teman. Setiap kali rasa hangat muncul, maka aku mengingatmu.
 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com