Masih sudikah kamu
berjuang bersamaku?
Kita pernah bersama menggambari tembok-tembok dengan ambisi.
Kita pernah merangkai kata per kata sambil saling percaya. Kita pernah, berdua,
mencecap malam-malam dingin yang panas. Kita pernah saling menangis, kamu di
dadaku, aku di dadamu. Kita pernah berbagi sebungkus indomie untuk makan malam
karena hanya itu yang tersisa. Kita sekuat itu.
Kita pernah berikrar akan terus berjuang, bersama-sama mewujudkan
mimpi kita meski rintangan yang ada seperti tak berujung. Aku masih sangat
membutuhkanmu, menginginkanmu. Apakah kamu pun begitu?
Aku masih bersedia bermimpi bersamamu, sekali lagi, merawat
mimpi-mimpi kita dan mewujudkannya. Akan tetapi, masih sudikah kamu sekali lagi
bermimpi bersamaku, merawat mimpi kita dan mewujudkannya?
Masih sudikah kamu
berjuang bersamaku, Mas?

0 comments:
Post a Comment