Mencintaimu adalah hal yang sederhana. Menerima kekuranganmu adalah tantangan. Mencintai kekuranganmu
adalah hal yang sulit tapi aku tetap mau melakukannya. Kukira, hanya
berhenti di situ. Ternyata ada yang lebih sulit, yaitu menerima bahwa kamu tidak
bisa melakukan hal yang sama padaku. Kamu berhenti mencintaiku, menginginkanku,
dan membutuhkanku.
Aku selalu ingin melakukan
hal-hal kecil hingga yang besar, bersamamu. Aku ingin memakan pisang goreng
saat hujan bersamamu, aku ingin membuat sebuah galeri seni rupa bersamamu.
Tapi aku terlalu takut dan pesimis, terlalu lambat dan sering menunda.
Hingga kamu pun merasa tak lagi
menginginkanku, membutuhkanku, mencintaiku. Seberapa banyak pun rasa sesal dan
usahaku untuk memperbaiki diri, kamu tidak akan mau kembali. Katamu, mungkin
saja kita hanya halte bagi satu sama lain, pemberhentian sementara.
Aku rela menjadi gelandangan
untuk bisa tinggal di haltemu. Tapi aku tidak akan membiarkan kamu merasa tidak
nyaman. Kamu harus mendapat rumah yang layak. Jika benar aku hanya halte
bagimu, maka tak akan kuizinkan kamu tinggal meski kamu mau.
Dan aku memacu diriku sendiri,
agar bisa menjadi sebuah rumah tempatmu pulang, bukan sekadar menjadi haltemu.
Lalu pikiran itu datang tiba-tiba. Ah, mungkin, memang aku tidak pernah cukup
untukmu. Mungkin memang aku hanya selalu mengecewakanmu. Mungkin aku memang
tidak mampu membuatmu nyaman dan bahagia. Aku tidak ingin membelenggumu. Aku
mau kamu mendapatkan yang terbaik.
Kutuliskan surat-surat yang tak
akan kukirimkan. Kuberikan seluruhku di dalamnya. Aku berharap kamu bisa
membaca jiwaku melalui itu, bahwa aku hanya jatuh cinta padamu, tanpa pernah
ingin memaksamu menerimaku sebagaimana diriku. Aku pun tak pernah bisa menerima
diriku sendiri.
Kutuliskan surat-surat yang tak
akan kukirimkan. Kuberikan seluruhku di dalamnya. Aku berharap kamu bisa
membaca ruhku melalui itu, bahwa aku menunggumu karena separo diriku telah
kupersembahkan padamu. Aku tidak pernah genap lagi tanpamu.
Tapi, surat-surat itu tak akan
pernah kamu baca.

0 comments:
Post a Comment