Seorang kawan berulang tahun. Aku
membawa beberapa potong kue, menuju selatan. Aku begitu merindukanmu dan Kinci.
Tak mungkin aku mengatakannya padamu, tak mungkin aku minta bertemu denganmu, maka
kuputuskan untuk menemui Kinci.
Lalu ketidaksengajaan terjadi.
Ada kamu di selatan. Sedang makan dengan lahap. Aku membuatkan secangkir kopi
dengan penuh kerinduan, yang mungkin bagimu tidak berarti apa-apa. Kita
berbincang hal-hal ringan. Lalu, aku bertemu Kinci dan saling berbisik. Kami
membicarakanmu.
Detik itu, hingga ketika aku
kembali lagi menuju utara, aku tak henti-hentinya bersyukur. Tanpa sengaja
bertemu denganmu dan mendapati kamu sehat pun aku sudah sangat bahagia.
Kamu bilang, kamu merasa dikecewakan
berulang kali. Aku bahkan tak sanggup berucap maaf di hadapanmu karena merasa
begitu menyesal. Aku sungguh ingin menebusnya, mengambili kecewamu satu persatu
sampai habis. Aku ingin menukar kecewamu, sedikit demi sedikit dengan apa saja
yang bisa kuberikan. Jika memang butuh beribu tahun untuk menuntaskannya, aku akan
melakukannya hingga sudah tidak mampu lagi.
Kutitipkan pesan pada Kinci untuk
menjagamu.
Sesampainya di utara, tak
kusangka aku sedikit terluka ketika membaca kutipan Albert Camus yang kamu
tuliskan, “She was waiting but she didn’t know fo what. She was aware only of
her solitude and of the penetrating cold...” Aku tak punya hak apa-apa untuk
merasa terluka. Sama sekali tidak. Meski kukatakan dengan sungguh-sungguh
padamu bahwa aku menunggumu karena kita adalah mimpiku, kamu tetap tidak akan
percaya. Meski kukatakan padamu bahwa aku tidak peduli pada kesendirianku,
bahwa semua yang kupikirkan adalah kamu dan kita, kamu tetap tidak akan
percaya. Prasangkamu tidak akan bisa kulawan, mungkin juga sebenarnya tidak
perlu. Biarlah begitu. Asalkan kamu bahagia, Mas.
Maka kutawar sendiri sakitku,
dengan mengingatmu yang ceria tadi. Senyum dan tawamu kucuri diam-diam melalui
ekor mataku, lalu kulekatkan dalam pikiran. Kuputar sewaktu-waktu aku butuh
alasan kenapa aku harus tetap kuat.
Aku pun kembali bersyukur. Sampai
pagi, aku tidak bisa tidur. Ah, sungguh-sungguh ketidaksengajaan yang
membahagiakan.

0 comments:
Post a Comment