Tuesday, October 25, 2016

Kinci dan Albert Camus

Seorang kawan berulang tahun. Aku membawa beberapa potong kue, menuju selatan. Aku begitu merindukanmu dan Kinci. Tak mungkin aku mengatakannya padamu, tak mungkin aku minta bertemu denganmu, maka kuputuskan untuk menemui Kinci. 

Lalu ketidaksengajaan terjadi. Ada kamu di selatan. Sedang makan dengan lahap. Aku membuatkan secangkir kopi dengan penuh kerinduan, yang mungkin bagimu tidak berarti apa-apa. Kita berbincang hal-hal ringan. Lalu, aku bertemu Kinci dan saling berbisik. Kami membicarakanmu. 

Detik itu, hingga ketika aku kembali lagi menuju utara, aku tak henti-hentinya bersyukur. Tanpa sengaja bertemu denganmu dan mendapati kamu sehat pun aku sudah sangat bahagia. 

Kamu bilang, kamu merasa dikecewakan berulang kali. Aku bahkan tak sanggup berucap maaf di hadapanmu karena merasa begitu menyesal. Aku sungguh ingin menebusnya, mengambili kecewamu satu persatu sampai habis. Aku ingin menukar kecewamu, sedikit demi sedikit dengan apa saja yang bisa kuberikan. Jika memang butuh beribu tahun untuk menuntaskannya, aku akan melakukannya hingga sudah tidak mampu lagi. 

Kutitipkan pesan pada Kinci untuk menjagamu. 

Sesampainya di utara, tak kusangka aku sedikit terluka ketika membaca kutipan Albert Camus yang kamu tuliskan, “She was waiting but she didn’t know fo what. She was aware only of her solitude and of the penetrating cold...” Aku tak punya hak apa-apa untuk merasa terluka. Sama sekali tidak. Meski kukatakan dengan sungguh-sungguh padamu bahwa aku menunggumu karena kita adalah mimpiku, kamu tetap tidak akan percaya. Meski kukatakan padamu bahwa aku tidak peduli pada kesendirianku, bahwa semua yang kupikirkan adalah kamu dan kita, kamu tetap tidak akan percaya. Prasangkamu tidak akan bisa kulawan, mungkin juga sebenarnya tidak perlu. Biarlah begitu. Asalkan kamu bahagia, Mas. 

Maka kutawar sendiri sakitku, dengan mengingatmu yang ceria tadi. Senyum dan tawamu kucuri diam-diam melalui ekor mataku, lalu kulekatkan dalam pikiran. Kuputar sewaktu-waktu aku butuh alasan kenapa aku harus tetap kuat. 

Aku pun kembali bersyukur. Sampai pagi, aku tidak bisa tidur. Ah, sungguh-sungguh ketidaksengajaan yang membahagiakan.

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com