Friday, October 21, 2016

Jarak

Mom     : Kamu kenapa, Nduk? Cerita, ya. Nangisnya dihabiskan dulu, habis itu cerita, ya.
Me         : Aku ditinggal. Dia ninggalin aku. Aku harus gimana?
Mom     : Kenapa? Ada masalah apa?
Me         : Katanya, karena aku yang ninggalin dia duluan. Dua kali, aku melewati batas yang dia tetapkan di awal. Dia nggak bisa lagi sama aku, dia sudah nggak sanggup lagi.
Mom     : Kamu sudah minta maaf?
Me         : Sudah. Aku sudah minta maaf. Aku sadar betul aku yang salah. Aku yang membuat semuanya menjadi kacau balau begini. Aku menyakitinya, aku membuat dia kecewa, membuat dia sangat marah. Aku menyesal, aku akan menyesali ini seumur hidup.
Mom     : Cah ayu, sudah baik kamu mengakui kesalahanmu. Jangan diulang lagi. Jangan pernah diulangi lagi. Tapi namanya orang memaafkan butuh proses, butuh waktu. Kamu juga harus bisa memaafkan dirimu sendiri dulu. Dia, Nduk, bebannya dua kali lipat. Dia harus memaafkanmu, juga memaafkan dirinya sendiri. Kamu cuma satu, tapi dia dua.
Me         : Mungkin aku memang nggak pernah cukup buat dia. Aku kurang cantik, kurang baik, kurang pintar, kurang berilmu, bahkan aku nggak punya apa-apa.
Mom     : Lho, Nduk. Kok kamu malah salah kaprah. Bukan itu, sama sekali bukan itu kan masalahnya?
Me         : Dia bilang aku nggak nurut. Aku ngeyel, dan susah diajari. Dia sudah nggak tahan.
Mom     : Lha betul. Dia betul. Kamu memang paling ngeyel, maunya menang sendiri. Kan dulu sudah dikasih tau, hatinya dsiapkan, imannya diteguhkan, tingkah laku dan tuturnya dibenahi, untuk menjadi pendamping yang baik. Mungkin memang harus begini jalannya, Nduk, supaya kamu sadar.
Me         : Dia bilang aku selalu nunda-nunda dan telat. Aku nggak pernah bisa melunasi janji-janji.
Mom     : Lha itu juga betul. Dia betul. Kalau begitu, mulai sekarang dibenahi. Kalau benar dia itu digariskan sama kamu, kamu sudah harus jadi lebih baik, nggak nunda-nunda, nggak telat lagi.
Me         : Tapi dia sudah nggak sayang lagi sama aku.
Mom     : Namanya cinta itu begitu. Cinta itu bukan cuma sayang. Kadang-kadang cinta itu rasa marah, jengkel, sakit hati, bahkan benci. Kalau dia nggak betul-betul cinta sama kamu, dia nggak akan sampai begini.
Me         : Tapi dia ninggalin aku. Kalau dia cinta, kenapa dia ninggalin aku?
Mom     : Cah ayu, dia ninggalin kamu karena kamu ninggalin dia duluan? Kamu ninggalin dia atau enggak?
Me        : Enggak. Aku nggak ninggalin dia. Sungguh-sungguh aku menyesal karena bicara ngawur. Tapi aku nggak ninggalin dia. Aku nggak pernah ada niatan meninggalkannya. Sekarang pun aku masih nggak ke mana-mana, aku nggak ninggalin dia.
Mom     : Yasudah to kalau begitu. Memang harus begini jalannya. Ini namanya ujian. Sekarang dipasrahkan sama Gusti Allah. Perkara semacam ini, bukan lagi kuasa kita, Nduk. Tapi tetep, jangan berhenti berusaha, meski usahamu hanya bisa sebatas doa-doa. Supaya dia mau memaafkan kamu dan dirinya sendiri. Kamu juga harus mulai memaafkan dirimu sendiri. Cuma Gusti Allah yang bisa melunakkan yang keras, mencairkan yang beku, dan menghangatkan lagi yang sudah dingin.
Me         : Apa dia akan pulang padaku lagi?
Mom     : Nggak ada yang tau. Nggak ada yang pernah tau. Rahasia masa depan itu miliknya Gusti Allah. Berdoalah begini, Ya Tuhanku, jika dia memang Kau gariskan untukku, dekatkanlah, mudahkanlah. Jika bukan, berikanlah aku pengganti yang lebih baik.
Me         : Aku dapat petunjuk untuk menunggunya pulang. Aku cuma bisa yakin, aku cuma punya yakin.
Mom     : Lho, yakin juga baik. Tapi harus dipasrahkan. Boleh berusaha, tapi bagian menentukan hasil itu jatahnya Gusti Allah.
Me         : Aku boleh nungguin dia?
Mom     : Boleh, Nduk. Tapi jangan berharap. Dan ingat, menunggu itu hanya untuk orang-orang yang kuat tekadnya. Kamu juga harus kuat. Jangan sakit, jangan nangis terus.
Me         : Iya.
Mom     : Kamu juga harus ikhlas. Harus. Meskipun kamu bertekad menunggu, kamu juga harus ikhlas. Semua hal di dunia ini bukan milik kita, semuanya cuma titipan, Nduk.
Me         : Tapi aku benar-benar sangat sayang. Aku harus gimana untuk ikhlas? Susah sekali.
Mom     : Lho nggak ada yang bilang kalau gampang. Ikhlas itu memang paling susah. Tapi kamu nggak boleh menyerah. Ikhlas itu rela. Ikhlas itu tidak memaksakan diri. Ikhlas itu membebaskan hal yang paling kita inginkan.
Me         : Seperti ajaran Budha?
Mom     : Mungkin.
Me         : Kalau dia tidak pulang bagaimana?
Mom     : Berarti kamu memang bukan rumahnya. Nggak bisa dipaksa, Nduk. Gusti Allah yang ngasih jalan, Gusti Allah yang ngasih ketetapan. Makanya jangan berharap, ya. Jadi kamu nggak akan sakit hati, kalau akhirnya dia memang bukan buat kamu.
Me         : Iya. Aku sungguh ingin pasrah dan ikhlas.
Mom     : Pelan-pelan, Nduk. Semua butuh proses. Jangan takut, kami bantu bawakan bebanmu. Kami pun sudah sangat sayang sama dia. Tapi nggak ada yang bisa dipaksakan. Kalau benar dia anak lanangnya kami, Masmu, ya, dia akan menemukan jalan pulangnya. Yang selalu kami sebut di setiap doa, Nduk, bukan cuma namamu, namanya pun sudah selalu kami sebut di setiap doa.
Me         : Kalian kecewa sama dia?
Mom     : Enggak. Kami nggak kecewa. Kalian sudah dewasa. Kami tidak tau apa-apa. Kami yakin kok kalau dia baik. Sekarang, dia juga pasti menuruti kata hatinya. Cinta itu memang begitu, Nduk. Membingungkan. Wolak-walik ing ati.
Me         : Dia juga bilang kalau kalbu itu ada dua sisi.
Mom     : Lha betul. Itu betul. Kamu sendiri juga selalu keras sama kami, supaya tidak melihat dari satu sudut pandang. Kamu juga harusnya bisa begitu. Jangan dirasakan dari satu sisi. Dia sedang sangat marah sama kamu, Nduk. Ya itu caranya mencintaimu.
Me         : Aku sangat sayang sama dia.
Mom     : Iya, Nduk, kami juga sayang sama dia. Tapi kamu juga harus sayang sama dirimu sendiri. Sekarang, bebaskan hatinya, bebaskan hatimu. Dijalani dengan sabar dan ikhlas. Pelan-pelan saja. Gusti Allah pasti maringi jalan, kalau memang dia untukmu. Perbaiki dirimu, dia juga sedang memperbaiki dirinya. Beri makan jiwamu, badanmu, biar tetap cantik luar dalam.

Kami menangis dan berpelukan sampai pagi. Sampai dadaku terasa sesak sekali.

Kini aku ingat, orang pertama yang kata-katanya selalu kukagumi dan ingin kutuliskan adalah ibu. Dalam ucapannya hanya terkandung kejujuran dan kedamaian. Dan yang kedua, adalah kamu, Mas. Aku menyesal karena sebegini terlambat, sebegini bodoh sampai baru mengerti. Sungguh-sungguh aku meminta 1001 maaf padamu.

Aku menunggu tapi tidak boleh berharap. Aku sangat sayang tapi harus melepaskan. Membingungkan. Pelan-pelan, kucerna pelan-pelan, kujalani pelan-pelan. Hanya satu hal yang sudah aku mengerti, aku harus menghaturkan terima kasih tanpa putus-putus padamu. Kamu membuatku pulang kembali, pada banyak rumah yang sempat kulupakan. Matur nuwun, Mas.

Jika dimampukan, pulanglah, Mas. Kami menunggumu pulang lagi.

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com