Monday, October 24, 2016

Kisah Sebuah Kasur

Suatu hari saat aku masih semester awal, aku berikrar pada diriku sendiri untuk tidak akan membeli kasur baru sampai aku lulus supaya aku tidak manja dan tidak makin malas. Setelah kamu menyusup di hidupku, diam-diam aku sering terjaga saat kamu tertidur pulas. Kupijat punggung dan tanganmu, wajahmu letih sekali namun polos seperti baru lahir. Pada jam-jam kita terjaga, aku selalu sulit mencari-cari matamu. Maka saat kamu terlelap, kupandangi mata itu. Keduanya terkatup rapat, tapi dari sana pun selalu kutemukan bunga-bunga matahari yang mekar, cantik sekali. 

Maka kutuliskan sebuah sajak untukmu karena matamu seperti bunga matahari. Kusimpan rapi dalam folderku.

Berkali-kali, kulakukan hal yang sama, memandangimu diam-diam saat kamu tertidur pulas. Hanya saat kamu tertidur pulas, karena jika tidurmu setengah jadi, kamu selalu mudah terbangun meski hanya karena suara halaman buku yang dibalik. Setahun berlalu, aku sudah pindah kamar tapi masih dengan kasur yang sama. Kamu sering tertidur di sana. 

Dan satu malam saat aku memijat punggung dan tanganmu, kamu tertidur pulas seperti biasa, bunga-bunga matahari itu terlihat lelah sekali. Pekerja keras kesayanganku harus istirahat dengan nyaman. Maka kuputuskan, akan kubeli sebuah kasur yang lebih besar dan lebih empuk, agar tidurmu nyaman. 

Aku miskin sekali, sekadar membeli kasur pun harus menabung begitu lama. Pada akhirnya, sebuah kasur terbeli. Juga harapan agar bunga-bunga matahari di matamu tumbuh subur. Sayangnya, kamu memilih pergi. Dan kasur itu, yang baru kubeli, hanya menampung penyesalan-penyesalanku, serta berkarung-karung rasa bersalah yang kujadikan selimut pada malam-malam tanpamu. 

1 comments:

Akhmad Muhaimin Azzet said...

Kasur lama yang penuh kenangan; kasur baru yang luas tanpanya.

Post a Comment

 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com