Suatu hari saat aku masih semester
awal, aku berikrar pada diriku sendiri untuk tidak akan membeli kasur baru
sampai aku lulus supaya aku tidak manja dan tidak makin malas. Setelah kamu menyusup di hidupku,
diam-diam aku sering terjaga saat kamu tertidur pulas. Kupijat punggung dan
tanganmu, wajahmu letih sekali namun polos seperti baru lahir. Pada jam-jam
kita terjaga, aku selalu sulit mencari-cari matamu. Maka saat kamu terlelap,
kupandangi mata itu. Keduanya terkatup rapat, tapi dari sana pun selalu
kutemukan bunga-bunga matahari yang mekar, cantik sekali.
Maka kutuliskan sebuah sajak
untukmu karena matamu seperti bunga matahari. Kusimpan rapi dalam folderku.
Berkali-kali, kulakukan hal yang
sama, memandangimu diam-diam saat kamu tertidur pulas. Hanya saat kamu tertidur
pulas, karena jika tidurmu setengah jadi, kamu selalu mudah terbangun meski
hanya karena suara halaman buku yang dibalik. Setahun berlalu, aku sudah pindah
kamar tapi masih dengan kasur yang sama. Kamu sering tertidur di sana.
Dan satu malam saat aku memijat
punggung dan tanganmu, kamu tertidur pulas seperti biasa, bunga-bunga
matahari itu terlihat lelah sekali. Pekerja keras kesayanganku harus istirahat dengan nyaman. Maka kuputuskan, akan kubeli sebuah kasur
yang lebih besar dan lebih empuk, agar tidurmu nyaman.
Aku miskin sekali, sekadar membeli kasur
pun harus menabung begitu lama. Pada akhirnya, sebuah kasur terbeli. Juga harapan agar
bunga-bunga matahari di matamu tumbuh subur. Sayangnya, kamu memilih pergi. Dan
kasur itu, yang baru kubeli, hanya menampung penyesalan-penyesalanku, serta
berkarung-karung rasa bersalah yang kujadikan selimut pada malam-malam tanpamu.


1 comments:
Kasur lama yang penuh kenangan; kasur baru yang luas tanpanya.
Post a Comment