Friday, December 18, 2015

Kematian Benedict Anderson dan Dua Kipas Angin

Bisa jadi, bagiku, kematian Anderson adalah sebuah kelahiran.

Aku turut berduka atas kepergian Anderson, yang selama ini kukenal sebagai sejarawan. Pengetahuanku tentang Anderson hanya sebatas pemikirannnya tentang ‘komunitas khayal’. Selebihnya aku tidak terlalu tahu tentangnya. Rasa sedih ini muncul karena aku belum sempat bertemu langsung dengan Anderson.

Beberapa hari sebelum Anderson meninggal, aku melihat sebuah foto yang diunggah oleh seorang kawan di akun media sosialnya. Kawanku ini sedang menghadiri kuliah umum Anderson yang berlangsung di Universitas Indonesia. Melalui deskripsi singkat, kawanku menjelaskan hal yang tidak berhubungan dengan kuliah umum. Sialnya, aku yang membaca deskripsi singkat itu malah terbayang suasana pertemuan dengan Anderson. Lalu dalam hati aku berkata, “Lain kali, ya. Lain kali kalau Anderson bikin kuliah umum apalagi di Jogja aku mau datang.”

Menunda sering membuatku kecewa.

Bersamaan dengan itu, aku sedang merayakan satu tahun hubungan dengan kekasih. Kami tidak punya ritual apa pun untuk dijalani. Aku sendiri juga bingung karena ini kali pertama hubungan asmaraku berjalan baik sampai hitungan tahun. Akhirnya kami kencan saja seperti biasanya. Aku menemaninya membeli kamera saku, menonton mobil tua, dan jajan. Aku sempat merengek minta dibelikan kipas angin mini portable yang harganya 15ribu, dan berhasil. Maka, kuanggap itu sebagai hadiah.

Lalu aku memberinya pengalaman pertama berkaraoke. Hanya itu yang terbaik yang bisa kupikirkan untuk kado perayaan kami. Selang sehari, saat aku bangun tidur, aku kaget menemukan kipas angin besar di sebelah tempat tidur. Tentu saja darinya. Maka, kuanggap itu sebagai hadiah tambahan.

Dan satu hadiah terakhir yang paling membahagiakan adalah percakapan kami.

Katanya, aku pasti bisa menjadi penulis fiksi jika aku memulainya dengan sungguh-sungguh sejak sekarang, dan tidak menunda-tunda. Aku mengiyakan. Dia menambahkan, hanya dengan raut muka, bahwa sebenarnya dia pesimis akan niatku. Apalagi tentang kedisiplinan. Tapi dia tidak sendiri, aku juga.

Aku juga tidak begitu yakin aku bisa.Tapi aku sudah selesai menulis ini, tulisan sampah hasil bertengkar hebat dengan rasa malas. Aku benar-benar rindu ingin berkarya lagi, menulis fiksi lagi.

Photo taken by Donnie Trisfian



0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com