Bisa jadi, bagiku, kematian
Anderson adalah sebuah kelahiran.
Aku turut berduka atas kepergian Anderson,
yang selama ini kukenal sebagai sejarawan. Pengetahuanku tentang Anderson hanya
sebatas pemikirannnya tentang ‘komunitas khayal’. Selebihnya aku tidak terlalu
tahu tentangnya. Rasa sedih ini muncul karena aku belum sempat bertemu langsung
dengan Anderson.
Beberapa hari sebelum Anderson
meninggal, aku melihat sebuah foto yang diunggah oleh seorang kawan di akun media
sosialnya. Kawanku ini sedang menghadiri kuliah umum Anderson yang
berlangsung di Universitas Indonesia. Melalui deskripsi singkat, kawanku menjelaskan
hal yang tidak berhubungan dengan kuliah umum. Sialnya, aku yang membaca
deskripsi singkat itu malah terbayang suasana pertemuan dengan Anderson. Lalu
dalam hati aku berkata, “Lain kali, ya. Lain kali kalau Anderson bikin kuliah
umum apalagi di Jogja aku mau datang.”
Menunda sering membuatku kecewa.
Bersamaan dengan itu, aku sedang
merayakan satu tahun hubungan dengan kekasih. Kami tidak punya ritual apa pun
untuk dijalani. Aku sendiri juga bingung karena ini kali pertama hubungan
asmaraku berjalan baik sampai hitungan tahun. Akhirnya kami kencan saja seperti
biasanya. Aku menemaninya membeli kamera saku, menonton mobil tua, dan jajan. Aku
sempat merengek minta dibelikan kipas angin mini portable yang harganya 15ribu, dan berhasil. Maka, kuanggap itu
sebagai hadiah.
Lalu aku memberinya pengalaman
pertama berkaraoke. Hanya itu yang terbaik yang bisa kupikirkan untuk kado perayaan
kami. Selang sehari, saat aku bangun tidur, aku kaget menemukan kipas angin
besar di sebelah tempat tidur. Tentu saja darinya. Maka, kuanggap itu sebagai
hadiah tambahan.
Dan satu hadiah terakhir yang
paling membahagiakan adalah percakapan kami.
Katanya, aku pasti bisa menjadi
penulis fiksi jika aku memulainya dengan sungguh-sungguh sejak sekarang, dan tidak
menunda-tunda. Aku mengiyakan. Dia menambahkan, hanya dengan raut muka, bahwa
sebenarnya dia pesimis akan niatku. Apalagi tentang kedisiplinan. Tapi dia
tidak sendiri, aku juga.
Aku juga tidak begitu yakin aku
bisa.Tapi aku sudah selesai menulis
ini, tulisan sampah hasil bertengkar hebat dengan rasa malas. Aku benar-benar rindu ingin berkarya lagi, menulis fiksi lagi.
![]() |
| Photo taken by Donnie Trisfian |


0 comments:
Post a Comment