Kala itu, yang aku harapkan hanyalah 5 menit panggilan
telepon, darimu. Aku setengah mati rindu dan ingin mendengar suaramu. Itu saja.
Tapi, tidakkah itu terlalu banyak untukku?
Diam-diam, rasa kecewa tumbuh lebat seperti rumput liar di
musim hujan.
Aku ingin digandeng saat menonton pameran agar tidak perlu
kerepotan mengejar langkahmu yang lebar. Agar bisa memandang satu titik yang
sama, memudahkanku bertanya, tentang apa saja karena aku sesungguhnya tidak
mengerti seni rupa.
Aku ingin dibawakan segelas air putih hangat dan paracetamol
saat demam tengah malam lalu ditemani hingga pagi. Agar tidak perlu menelepon
teman yang pasti menanyakan, “Di mana lelakimu?”
Aku ingin dibaca, seluruhku. Agar kamu tidak hanya melulu
tahu tentang halaman 7 dan 89. Agar kesimpulanmu merupakan keutuhan atasku, dan
bisa berubah ubah karena kontekstual.
Aku ingin berhenti menginginkan hal-hal remeh. Permintaanku
sebegitu banyak padahal aku tidak memberikan apa pun padamu.
Tapi, kala itu tidak ada perasaan lain kecuali kecewa.
Sungguh tidak bisakah kamu menyisakan beberapa menit, meski
sudah terlalu lelah? Harus bilang bagaimana? Mungkin kamu memang tidak sempat.
Mungkin merokok jauh lebih penting saat itu daripada mendengarkan sebentar
seorang gadis yang mengeluhkan rasa sakit di kaki kanannya.
Aku menunggu dan menunggu. Panggilan telepon itu tidak
pernah ada. Hingga kini, meski aku begitu berusaha membuang rasa kecewa, aku
teteap saja dihantui pertanyaan, “Apakah aku benar nyata bagimu?”
Ah, mungkin aku memang meminta terlalu banyak.

0 comments:
Post a Comment