"Hidup itu seperti sepak bola. Pemain bola, harus tau
positioning. Dia musti tahu, dia kiper atau striker. Kalau positioning dia
salah, ya, bakal ngerecokin doang. Ketika dia tau kalau dia kiper dia akan tau
di mana ranahnya. Pun ketika kita mengetahui posisi kita, sebagai anak atau
partner. Kalau positioningnya salah dari awal ya cuma bikin sakit hati sendiri,
sama bikin jengkel yang lain, kan?
Seperti bermain bola. Ketika kita sudah dalam tim, tidak
bisa kita bilang ‘I can do thing by myself’ atau ‘I can survive by myself’. No
no, you can't say that. Itu akan benar-benar menyakiti timmu. Itu merendahkan
timmu bila diketahui tim lain, karena terlihat tidak kompak. Dalam tim, ketika
kamu gagal atau berhasil, tim selalu menemani kamu. Makanya kita tidak bisa
berbicara seegois itu, dalam tim, dalam hidup.
Melihat sepak bola, aku melihat hidup. Di sana ada kita, ada
orang lain. And we are called a team. Kadang ngeselin, tapi ya gimana, mesti
dimaklumin. Aku dan kamu juga tim yang lebih intim. Ketika performaku turun atau aku
malas, dijamin kamu kena imbas. Pun sebaliknya. Kita mesti saling menguatkan.
Ada waktunya memang kamu harus sendiri. Show your own skill (itu bukan berarti
kamu bisa bilang ‘can do by myself’, karena memang ada saatnya harus bisa
sendiri) ada saatnya kita oper-operan, kerja sama.
Dan kita adalah pasangan terkeren, kan? So, give me the best hug
you have."
Aku memulai 2016 dengan hati yang lega. Jangan lelah, ya, untuk saling oper bola, saling kerja sama, saling mengingatkan. Selamat tahun baru, Mas.

0 comments:
Post a Comment