Sunday, May 11, 2014

Fvckin Twenty



Aku tidak ingin mendeskripsikan hari ini. Banyak lilin dan kado, seperti tahun-tahun sebelumnya. Limapahan doa dan harapan baik. Tapi hari ini sungguh tidak ingin kudeskripsikan. Sampai berakhirnya semesta tanggal sepuluh Mei, aku masih bisa menahan tangis yang rasanya sudah ingin menampakkan diri sejak tadi. Semangat menjadi dua puluh yang harusnya baru dimulai tidak bersisa. Yang nampak hanya rasa hampa, juga kecewa.
Aku menangis sekuat tenaga di pojok kamar yang gelap gulita. Sampai cegukan dan sulit bernapas. Aku mengutuki diri sendiri karena berkepala dua begitu cepat. Aku tidak bahagia. Ini adalah hal paling menyedihkan, mungkin, yang pernah kualami selama berproses di bumi.

Aku masih menangis sambil menuliskan ini. Bolehkah aku sedikit mendongeng untuk menghibur laraku sendiri?

Pada suatu hari, tujuh atau delapan tahun yang lalu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Pada sebuah buku yang aku sudah lupa judulnya. Setelahnya, aku jatuh terus menerus meski pada buku-buku yang berbeda. Aku mulai membaca, dan terus membaca. Lalu menulis, dan terus menulis.

Ketika itu, tujuh atau delapan tahun yang lalu, aku tahu aku ingin melakukan apa pada sisa waktu menunggu kematian. Aku ingin menulis, membagikan mimpi serta segala hiruk-pikuk yang mendiami pikiranku, kepada orang-orang. Aku ingin menulis, mencetaknya menjadi sebuah buku, dan mempengaruhi semesta.  

Sialnya, hari itu aku sadar bahwa aku tidak akan pernah bisa menulis jika aku tidak membaca. Aku tidak bisa menulis banyak jika tidak membaca banyak. Aku tidak bisa menulis dengan baik jika aku tidak bisa membaca dengan baik. Maka aku memulai sebuah mimpi dan menghabiskan waktu untuk menabung apa-apa yang terbaca. Dan suatu sore, aku berjanji pada diri sendiri. Sebelum kepala dua brengsek itu muncul, aku sudah akan memenuhi mimpiku. Menjadi apa yang selama ini aku inginkan. Tamat.

Cerita berakhir. Hari ini aku hanya tidak habis pikir, bagaimana mungkin aku membuang duaribu hari lebih hanya untuk luar biasa kecewa pada diri sendiri? Ah, ceroboh sekali.

Ini adalah kado termahal yang pernah aku terima. Senyatanya, aku tidak pernah berusaha keras untuk mendapatkan apa yang aku mau. Senyatanya, aku pemalas yang selalu menunda semua hal.

Setelah sangat lelah menangis, aku memulai dongeng baruku. Aku akan berjuang untuk menyelesaikan apa yang sudah aku mulai, tidak peduli seterlambat apa pun itu.

So, happy birthday, dear cute writter wanna be!


0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com