Aku tidak ingin mendeskripsikan
hari ini. Banyak lilin dan kado, seperti tahun-tahun sebelumnya. Limapahan doa
dan harapan baik. Tapi hari ini sungguh tidak ingin kudeskripsikan. Sampai
berakhirnya semesta tanggal sepuluh Mei, aku masih bisa menahan tangis yang
rasanya sudah ingin menampakkan diri sejak tadi. Semangat menjadi dua puluh
yang harusnya baru dimulai tidak bersisa. Yang nampak hanya rasa hampa, juga kecewa.
Aku menangis sekuat tenaga di
pojok kamar yang gelap gulita. Sampai cegukan dan sulit bernapas. Aku mengutuki
diri sendiri karena berkepala dua begitu cepat. Aku tidak bahagia. Ini adalah
hal paling menyedihkan, mungkin, yang pernah kualami selama berproses di bumi.
Aku masih menangis sambil
menuliskan ini. Bolehkah aku sedikit mendongeng untuk menghibur laraku sendiri?
Pada suatu hari, tujuh atau
delapan tahun yang lalu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Pada sebuah
buku yang aku sudah lupa judulnya. Setelahnya, aku jatuh terus menerus meski
pada buku-buku yang berbeda. Aku mulai membaca, dan terus membaca. Lalu
menulis, dan terus menulis.
Ketika itu, tujuh atau delapan
tahun yang lalu, aku tahu aku ingin melakukan apa pada sisa waktu menunggu
kematian. Aku ingin menulis, membagikan mimpi serta segala hiruk-pikuk yang
mendiami pikiranku, kepada orang-orang. Aku ingin menulis, mencetaknya menjadi
sebuah buku, dan mempengaruhi semesta.
Sialnya, hari itu aku sadar bahwa
aku tidak akan pernah bisa menulis jika aku tidak membaca. Aku tidak bisa
menulis banyak jika tidak membaca banyak. Aku tidak bisa menulis dengan baik
jika aku tidak bisa membaca dengan baik. Maka aku memulai sebuah mimpi dan
menghabiskan waktu untuk menabung apa-apa yang terbaca. Dan suatu sore, aku
berjanji pada diri sendiri. Sebelum kepala dua brengsek itu muncul, aku sudah
akan memenuhi mimpiku. Menjadi apa yang selama ini aku inginkan. Tamat.
Cerita berakhir. Hari ini aku
hanya tidak habis pikir, bagaimana mungkin aku membuang duaribu hari lebih
hanya untuk luar biasa kecewa pada diri sendiri? Ah, ceroboh sekali.
Ini adalah kado termahal yang
pernah aku terima. Senyatanya, aku tidak pernah berusaha keras untuk
mendapatkan apa yang aku mau. Senyatanya, aku pemalas yang selalu menunda semua
hal.
Setelah sangat lelah menangis,
aku memulai dongeng baruku. Aku akan berjuang untuk menyelesaikan apa yang
sudah aku mulai, tidak peduli seterlambat apa pun itu.
So, happy birthday, dear cute
writter wanna be!


0 comments:
Post a Comment