Ibu : Ayahmu
tadi tanya kamu sudah pulang atau belum?
Me : Oh,
ya?
Ibu : Begini
ceritanya..
“Gulanya habis?”
“Masih.”
“Kok tehnya
seperti tanpa gula, ya?”
“Pakai gula kok,
tapi sedikit. Sudah makin tua, risiko diabetes makin besar.”
“Anakmu sudah
pulang?”
“Belum.”
“Aku kira sudah
pulang, jadi dibuatkan teh. Anakmu yang paling tua kan yang tidak suka manis.”
Ibu : Ayahmu
tumben ingat kalau kamu tidak suka manis.
Me : Oh,
ya?
Seingatku,
seumur hidup selama 20 tahun ini, ibu hanya membuatkan teh panas untukku saat sakit. Aku tidak
pernah suka teh. Mungkin ayah cuma lupa. Seperti saat dia menjawab dengan
mantap, 17 tahun, pada temannya yang bertanya berapa umurku, ketika aku
berumur 15 tahun kurang 2 hari. Mungkin ayah cuma lupa. Seperti saat dia
terpaksa mengisi formulir keperluan sekolah, lalu bertanya 'siapa nama
tengahmu?', berulang-ulang, sampai aku kelas 2 SMP,
sampai aku akhirnya punya inisiatif dan sudah cukup pintar mengisi formulir sendiri.
Mungkin ayah memang cuma lupa.

0 comments:
Post a Comment