Sekolah negeri pun, bisa-bisanya,
melarang murid meninggalkan sekolah sebelum jam satu setiap hari Jumat. Mereka
yang muslim dipaksa menjalankan ibadah, laki-laki muslim lebih tepatnya. Mereka
yang berkeyakinan lain terpaksa mendapat siraman rohani di tengah panasnya
udara. Sisanya, para perempuan muslim dan yang tidak beragama, juga yang kabur
dari kelas siraman rohani berkumpul menjadi satu mengikuti kelas keputren.
Hari itu, hari jumat yang cukup
dekat dengan ujian nasional. Atau masih jauh, aku sudah lupa. Ada yang cukup
menarik di kelas keputren.
Guru : Blablablablabla...Ucig! Mana Ucig? Ada di kelas ini?
Me : Saya, Bu.
Guru : Nah, contohnya si Ucig ini.
Semua memandang ke arahku tanpa
kecuali. Sialan. Aku tidak sempat mendengarkan apa yang diperbincangan oleh
guru mungil ini di depan sana tadi karena sibuk membaca novel romantis semi
bokep ala ala Harlequeen. Aku cuma meringis sambil melambai pada mereka semua.
Guru : Contoh yang nggak mandiri itu seperti Ucig. Sisiran jarang,
sekalinya sisiran minta disisirin Sulis atau Fala.
Me : Hehehe. Ah, kata siapa, Bu? Sesekali aja, kok, minta
disisirinnya.
Sialan.
Guru : Jadi perempuan itu harus bisa mandiri. Kalau perempuan dianggap
lemah di mata laki-laki, buktikan kalau itu salah. Dan juga, perempuan tidak seharusnya
dianggap lemah oleh kaum perempuan itu sendiri. Jadi perempuan itu harus kuat,
harus bisa menempatkan diri. Kalau dia tidak berharga di matanya sendiri, maka
dia juga tidak akan berharga di mata orang lain, termasuk para laki-laki. Jadi,
mulai besok sisiran sendiri, ya, Cig?
Me : Siap, Bu.
Aku sebenarnya tidak terlalu
yakin, apakah memang hari itu adalah hari di mana aku mulai belajar menyisir
rambut sendiri dengan serius, atau hanya hari yang biasa seperti
sebelum-sebelumnya. Tapi aku sungguh sulit sekali menghilangkan hantu ‘jadi
mandiri’ yang dikatakan si guru mungil.
Setidaknya, kelas menyebalkan itu
membuatku selalu ingat mengenai penempatan diri ketika menjadi perempuan.

0 comments:
Post a Comment