Thursday, February 13, 2014

Keputren

Sekolah negeri pun, bisa-bisanya, melarang murid meninggalkan sekolah sebelum jam satu setiap hari Jumat. Mereka yang muslim dipaksa menjalankan ibadah, laki-laki muslim lebih tepatnya. Mereka yang berkeyakinan lain terpaksa mendapat siraman rohani di tengah panasnya udara. Sisanya, para perempuan muslim dan yang tidak beragama, juga yang kabur dari kelas siraman rohani berkumpul menjadi satu mengikuti kelas keputren. 

Hari itu, hari jumat yang cukup dekat dengan ujian nasional. Atau masih jauh, aku sudah lupa. Ada yang cukup menarik di kelas keputren. 

Guru      : Blablablablabla...Ucig! Mana Ucig? Ada di kelas ini?
Me         : Saya, Bu.
Guru      : Nah, contohnya si Ucig ini. 

Semua memandang ke arahku tanpa kecuali. Sialan. Aku tidak sempat mendengarkan apa yang diperbincangan oleh guru mungil ini di depan sana tadi karena sibuk membaca novel romantis semi bokep ala ala Harlequeen. Aku cuma meringis sambil melambai pada mereka semua. 

Guru      : Contoh yang nggak mandiri itu seperti Ucig. Sisiran jarang, sekalinya sisiran minta disisirin Sulis atau Fala.
Me         : Hehehe. Ah, kata siapa, Bu? Sesekali aja, kok, minta disisirinnya. 

Sialan. 

Guru      : Jadi perempuan itu harus bisa mandiri. Kalau perempuan dianggap lemah di mata laki-laki, buktikan kalau itu salah. Dan juga, perempuan tidak seharusnya dianggap lemah oleh kaum perempuan itu sendiri. Jadi perempuan itu harus kuat, harus bisa menempatkan diri. Kalau dia tidak berharga di matanya sendiri, maka dia juga tidak akan berharga di mata orang lain, termasuk para laki-laki. Jadi, mulai besok sisiran sendiri, ya, Cig?
Me            : Siap, Bu. 

Aku sebenarnya tidak terlalu yakin, apakah memang hari itu adalah hari di mana aku mulai belajar menyisir rambut sendiri dengan serius, atau hanya hari yang biasa seperti sebelum-sebelumnya. Tapi aku sungguh sulit sekali menghilangkan hantu ‘jadi mandiri’ yang dikatakan si guru mungil. 

Setidaknya, kelas menyebalkan itu membuatku selalu ingat mengenai penempatan diri ketika menjadi perempuan.


0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com