![]() |
| gambar diambil dari sini |
Aku benar-benar lupa.
Bahwa masing-masing orang
ternyata juga menakar resikonya sendiri. Mereka sudah siap atas buah akhir dari
kelakuan awal mereka. Bodohnya, aku merasa satu-satunya yang melakukan
persiapan paling matang. Berlagak paling tahan banting sehingga rela
mengorbankan diri sendiri untuk tameng yang lain. Nyatanya, mereka sudah punya
payungnya sendiri jika hujan lebat datang.
Bahwa masing-masing orang punya
taraf kedewasaan yang fleksibel. Lagi-lagi, dengan bodohnya, aku ketakutan jika
membuat mereka merasa sakit hati atau tersinggung. Padahal, mereka malah lebih
bisa menoleransi pernyataan karena bukan lagi anak kecil.
Bahwa masing-masing orang punya
kepentingan pribadi sehingga apapun pilihan cara penyampaian juga tindakan adalah wajib dihargai. Dan dengan idiotnya,
aku mengesampingkan apa yang aku perjuangkan demi melihat mereka bahagia.
Malahan, mereka sudah fokus pada tujuan mereka sendiri. Sial.
Aku benar-benar lupa. Setiap
masalah harus diselesaikan hingga tuntas; melalui diskusi sehat, perdebatan
terbuka, hati yang lapang, kepala dingin, dan kejujuran. Apapun hasil akhirnya
nanti, aku bahagia karena kami sudah bisa bersikap begitu terpelajar dengan
saling mengungkapkan kekesalan masing-masing, meminta maaf, juga mengakui kesalahan.
Sekarang, aku hanya ingin
me-restart keadaan, introspeksi diri, dan menebus kesalahan. Juga berdamai.


1 comments:
:)
Post a Comment