![]() |
| gambar diambil dari sini |
Brengsek! Luka yang terlanjur
dibiarkan terbuka lama ketika kambuh memang luar biasa sakit. Puluhan tahun,
hingga hidup merajalela mengendalikan naluri tak sadar. Hampir semua cara
mengendalikannya cuma berhenti sampai teori : sabar, ikhlas, memaafkan,
berdamai. Tai! Tidak ada yang benar-benar menyelesaikan apa yang seharusnya
diselesaikan.
Lalu aku menepi. Bertemu Tuhan
dalam minggu pagi yang baru saja lahir. Tidak mengadu, tidak juga mengeluh. Aku
memberiNya senyum sambil sekedar bertanya, “Hidup itu begini, ya? Memang
seharusnya begini, kan?”
Aku masih mencoba merangkai huruf
untuk menjelaskan ketika muncul hari seperti hari ini, menit seperti menit ini,
lagi. Entah pada siapa. Aku tidak peduli. Aku tidak lagi peduli. Aku bahkan
tidak tahu bahwa aku ada.


0 comments:
Post a Comment