Sunday, January 27, 2013

Dalam Minggu Pagi yang Baru Saja Lahir

Aku tidak ingin terbangun dengan mata bengkak dan hidung mampet. Alasan itulah yang membuatku menahan tangis hingga sulit sekali bernafas. Aku tidak ingin merusak apapun di sekelilingku. Alasan itulah yang membuatku memeluk lutut dan memejamkan mata. Sambil mengucap sugesti, “pasti baik-baik saja”. Aku tidak ingin berteriak lalu semua orang mendengarku. Alasan itulah yang membuatku menggigit kuat-kuat lututku sendiri hingga hampir berdarah.

gambar diambil dari sini
Brengsek! Luka yang terlanjur dibiarkan terbuka lama ketika kambuh memang luar biasa sakit. Puluhan tahun, hingga hidup merajalela mengendalikan naluri tak sadar. Hampir semua cara mengendalikannya cuma berhenti sampai teori : sabar, ikhlas, memaafkan, berdamai. Tai! Tidak ada yang benar-benar menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan.

Lalu aku menepi. Bertemu Tuhan dalam minggu pagi yang baru saja lahir. Tidak mengadu, tidak juga mengeluh. Aku memberiNya senyum sambil sekedar bertanya, “Hidup itu begini, ya? Memang seharusnya begini, kan?”

Aku masih mencoba merangkai huruf untuk menjelaskan ketika muncul hari seperti hari ini, menit seperti menit ini, lagi. Entah pada siapa. Aku tidak peduli. Aku tidak lagi peduli. Aku bahkan tidak tahu bahwa aku ada.

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com