Pada sebuah lagu yang dinyanyikan di atas panggung malam itu, aku jatuh rindu kepada teman-teman lama. Bahkan aku sudah tidak ingat
liriknya bagaimana.
Mendengarkan sama halnya seperti mengalami, bagiku. Setiap
kali nada-nada mengalun, akan ada imaji yang terbentuk dalam kepala.
Sayangnya, hal macam itu tidak selalu menyenangkan. Mendengarkan satu lagu, aku membayangkan air terjun. Lalu lagu
berikutnya, munculah imaji teman-teman lama, serta perasaan rindu.
Di suatu hari yang lain, aku sedang asik menonton proses
pembuatan film dokumenter di dalam gedung auditorium. Lalu musik mengalun, dan
munculah imaji tangan yang bersarung tangan sedang memegang gunting sambil
mengaborsi seorang perempuan cantik. Aku langsung memutuskan meninggalkan
tempat itu.
Kamu dikemudian hari menceritakan mengenai seorang pemusik
yang tentu saja namanya aku sudah lupa karena sulit diucapkan. Kamu bercerita
mengenai konser si pemusik yang hanya berlangsung beberapa menit. Tiket
konsernya mahal. Saat acara dimulai, pemusik masuk ke dalam panggung lalu duduk
di depan piano. Tangannya diarahkan pada piano lalu berhenti tepat sesaat
sebelum jari-jari pemusik menyentuh tuts. Pose itu terjadi dalam beberapa
menit, dan si pemusik hanya diam tak bersuara. Pertunjukannya selesai, begitu
saja.
Kamu menjelaskan, bahwa sang pemusik
menampilkan jeda. Bahwa jeda adalah bagian dari musik.
Aku mengamini. Lalu menambahkan dalam hati. Jeda adalah
bagian dari musik. Hening adalah bagian dari jeda. Maka dalam diam pun
sesungguhnya aku sedang mendengarkan nada-nada. Hanya jeda yang seringkali
membawaku pada satu imaji yang sama, meski tidak selalu.
Jeda membawaku pada imaji tentang
pulang, tentang rumah. Entah yang bagaimana, seperti apa, pada siapa, aku tidak
yakin bisa mendeskripsikannya. Namun, setiap kali lantunan jeda terdengar, aku
ingin sekali pulang pada apa saja, pada siapa saja, yang disebut rumah. Padamu, mungkin.

0 comments:
Post a Comment