Ibu berhenti
merajut, sama sekali. Rambutnya mulai memutih dan ia harus mengecatnya, sering
kali, bahkan memotongnya menjadi pendek seperti kebanyakan laki-laki. Hingga akhirnya menutupi
dengan kain. Semua benda kesayangannya disimpan. Rok mini, rok tidak mini, blazer, baju kantor,
alat merajut, kaos kaki bayi setengah jadi, tas, sepatu, surat-surat, dan
kenangan. Ayah yang dulu kurus semakin membesar perutnya. Rambutnya masih hitam
namun giginya luar biasa bermasalah. Ia kehilangan jam Albanya yang cukup mahal, motor
kantor, dan mungkin juga kehilangan aku. Sinar matanya masih hidup atau sudah
redup, aku tidak tahu. Aku tidak pernah memperhatikannya lekat-lekat.
Anak kedua ayah dan ibu lahir, lalu
tumbuh menjadi sosok yang tidak terlalu kuat. Rapuh. Suka memaki dan membanting
pintu kamar. Selalu menolak menyalami tamu meski masih kerabat sendiri. Harus
ke dokter setidaknya sebulan sekali demi mendapat obat penurun demam atau
pereda radang.
Sejak hari itu, kami tidak lagi punya meja makan. Aku akhirnya
membuat sendiri untuk diriku. Tidak cukup untuk yang lain. Bagi kami,
ketidakmampuan mengundang orang makan saat bertamu adalah memalukan. Aku punya meja
makanku sendiri tapi tidak cukup untuk yang lain. Begitulah, mengapa aku tidak pernah
mengundang siapa pun untuk hadir dan masuk. Bagi ras sialan itu, ketidakmampuan
mengundang orang makan saat bertamu adalah memalukan. Bagiku. Bagi kami.
Meski ibu selalu
bersikukuh, makanannya ada. Selalu ada. Yang penting makanannya, bukan?
Tapi, kami tidak
lagi punya meja makan. Aku tidak lagi dimampukan mengundang siapa pun untuk
hadir dan masuk, lalu bersantap. Membagi makan, membagi masalah, membagi
bahagia, membagi hidup, dan kenyataan. Aku tidak lagi dimampukan mengundang siapa pun untuk sekedar singgah sebentar, apalagi tinggal untuk waktu lama.

0 comments:
Post a Comment