Wednesday, August 27, 2014

Meja Makan yang Hilang

Sejak hari itu, kami tidak lagi punya meja makan. Sejak hari itu, semua hal seolah dilakukan bergantian. Makan, membereskan rumah, menghitung uang, membanting piring, pergi ke luar... semua hal seolah dilakukan bergantian. Tidak ada meja makan, tidak ada awal dan akhir yang berpusat di situ. Tidak ada satu doa yang diucapkan dan diamini bersama di depan hidangan. 
 
Ibu berhenti merajut, sama sekali. Rambutnya mulai memutih dan ia harus mengecatnya, sering kali, bahkan memotongnya menjadi pendek seperti kebanyakan laki-laki. Hingga akhirnya menutupi dengan kain. Semua benda kesayangannya disimpan. Rok mini, rok tidak mini, blazer, baju kantor, alat merajut, kaos kaki bayi setengah jadi, tas, sepatu, surat-surat, dan kenangan. Ayah yang dulu kurus semakin membesar perutnya. Rambutnya masih hitam namun giginya luar biasa bermasalah. Ia kehilangan jam Albanya yang cukup mahal, motor kantor, dan mungkin juga kehilangan aku. Sinar matanya masih hidup atau sudah redup, aku tidak tahu. Aku tidak pernah memperhatikannya lekat-lekat. 

Anak kedua ayah dan ibu lahir, lalu tumbuh menjadi sosok yang tidak terlalu kuat. Rapuh. Suka memaki dan membanting pintu kamar. Selalu menolak menyalami tamu meski masih kerabat sendiri. Harus ke dokter setidaknya sebulan sekali demi mendapat obat penurun demam atau pereda radang.

Sejak hari itu, kami tidak lagi punya meja makan. Aku akhirnya membuat sendiri untuk diriku. Tidak cukup untuk yang lain. Bagi kami, ketidakmampuan mengundang orang makan saat bertamu adalah memalukan. Aku punya meja makanku sendiri tapi tidak cukup untuk yang lain. Begitulah, mengapa aku tidak pernah mengundang siapa pun untuk hadir dan masuk. Bagi ras sialan itu, ketidakmampuan mengundang orang makan saat bertamu adalah memalukan. Bagiku. Bagi kami.
 
Meski ibu selalu bersikukuh, makanannya ada. Selalu ada. Yang penting makanannya, bukan?

Tapi, kami tidak lagi punya meja makan. Aku tidak lagi dimampukan mengundang siapa pun untuk hadir dan masuk, lalu bersantap. Membagi makan, membagi masalah, membagi bahagia, membagi hidup, dan kenyataan. Aku tidak lagi dimampukan mengundang siapa pun untuk sekedar singgah sebentar, apalagi tinggal untuk waktu lama. 

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com