Wednesday, February 13, 2013

Sudah Bukan Senin

Aku datang bukan untuk kamu, dia atau kalian. Apalagi untuk kita. Aku datang untuk diriku sendiri.



Masih senin. Aku sudah cemas sejak awal. Padahal aku menunggu senin bukan untuk meminta kepastian, bukan juga untuk terlibat percakapan dengan hasil helaan nafas berat. Aku menunggu senin hanya demi menagih peluk yang dijanjikan bersamaan sepercik rindu yang sempat terbalas.

Senin belum habis. Aku menjabat tanganmu, kita berjabat tangan. Berucap selamat malam. Lalu, aku membungkus beberapa tanya untuk kusimpan sendiri. Memang sudah harus belajar untuk menyimpan penyampaian. Supaya tetap mandiri, supaya tetap sanggup berdiri sendiri.

Senin hampir habis. Aku melalui jalan yang sama seperti malam itu, hanya berbeda arah. Bukankah aku pernah bilang padamu bahwa aku benci sekali melewati jalan ini? Kali ini, aku menghitung langkahku sendiri. Pada hitungan ke tujuh ratus dua puluh satu, aku berhenti. Menengadahkan kepala, menyapa bintang sambil tersenyum tolol, seperti seorang idiot. Aku tidak ingin menangis.

Sudah bukan senin. Aku tidak bisa kehilangan apa yang belum pernah aku miliki. Jadi, aku tidak berduka. Aku menunggu senin hanya demi menagih peluk yang dijanjikan bersamaan sepercik rindu yang sempat terbalas. Tapi senin sudah lewat. Beberapa sudah tidak sempat.

Selasa. Mungkin jika suatu hari nanti aku dicari di tempat yang sama aku sudah tidak ada, tapi pasti kamu tetap tahu di mana bisa menemukanku. Sesungguhnya, aku hanya mewujud menjadi fungi yang berbeda, dari sudut pandang pertama menjadi ke tiga, dari bolpen menjadi kertas, dari nyata menjadi tidak bernama. Aku kecewa. Bukan pada apa yang tidak aku dapat, tapi pada diri sendiri yang sanggup menoleransi permainan brengsek semesta.

Aku pergi bukan untuk kamu, dia atau kalian. Apalagi untuk kita. Aku pergi untuk diriku sendiri. 

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com