Masih senin. Aku sudah cemas
sejak awal. Padahal aku menunggu senin bukan untuk meminta kepastian, bukan
juga untuk terlibat percakapan dengan hasil helaan nafas berat. Aku menunggu
senin hanya demi menagih peluk yang dijanjikan bersamaan sepercik rindu yang
sempat terbalas.
Senin belum habis. Aku menjabat
tanganmu, kita berjabat tangan. Berucap selamat malam. Lalu, aku membungkus
beberapa tanya untuk kusimpan sendiri. Memang sudah harus belajar untuk
menyimpan penyampaian. Supaya tetap mandiri, supaya tetap sanggup berdiri
sendiri.
Senin hampir habis. Aku melalui
jalan yang sama seperti malam itu, hanya berbeda arah. Bukankah aku pernah bilang
padamu bahwa aku benci sekali melewati jalan ini? Kali ini, aku menghitung
langkahku sendiri. Pada hitungan ke tujuh ratus dua puluh satu, aku berhenti.
Menengadahkan kepala, menyapa bintang sambil tersenyum tolol, seperti seorang
idiot. Aku tidak ingin menangis.
Sudah bukan senin. Aku tidak bisa
kehilangan apa yang belum pernah aku miliki. Jadi, aku tidak berduka. Aku
menunggu senin hanya demi menagih peluk yang dijanjikan bersamaan sepercik
rindu yang sempat terbalas. Tapi senin sudah lewat. Beberapa sudah tidak
sempat.
Selasa. Mungkin jika suatu hari
nanti aku dicari di tempat yang sama aku sudah tidak ada, tapi pasti kamu tetap
tahu di mana bisa menemukanku. Sesungguhnya, aku hanya mewujud menjadi fungi yang
berbeda, dari sudut pandang pertama menjadi ke tiga, dari bolpen menjadi kertas,
dari nyata menjadi tidak bernama. Aku kecewa. Bukan pada apa yang tidak aku
dapat, tapi pada diri sendiri yang
sanggup menoleransi permainan brengsek semesta.
Aku pergi bukan untuk kamu, dia atau kalian.
Apalagi untuk kita. Aku pergi untuk diriku sendiri.


0 comments:
Post a Comment