gambar diambil dari sini
Aku menyaksikan Gossip Girl final
chapter dengan perasaan yang campur aduk. Perasaan sama yang muncul, dulu,
ketika aku membaca buku Harry Potter ke tujuh di sepuluh lembar terakhir.
Yang paling besar muncul adalah
ingin tahu, seperti apa akhirnya, karena hanya bagian akhir tidak pernah menjadi hak penikmat. Kita hanya bisa menebak-tebak. Setelah itu, ada gelombang aneh di perut dan nafas yang tidak lega, karena yang pasti, aku akan rindu, terutama pada Blair dan Chuck.
TV series yang satu ini ceritanya
ringan, dan ecek-ecek mungkin. Tapi, Gossip Girl lah yang menemaniku sejak masih
memakai putih abu-abu hingga hari ini. Yang dengan kebetulan setting lulusan
mereka bebarengan dengan nyataku. Juga patah hatinya Blair tepat ketika J
pergi. Aku belajar, secara tidak langsung. Dan itu menyenangkan.
Sesungguhnya, banyak hal yang
memaksamu menjadi semakin dewasa setiap detiknya. Apapun akhir cerita ini, aku
tahu satu hal. Sejak awal aku menonton Gossip Girl, aku tahu bahwa tontonan ini 'akan dan
harus' berakhir sebelum aku jatuh bosan, atau penulis kehilangan kreativitasnya
karena stuck di satu titik.
Dan seperti itu pula sekolah,
kuliah, cinta-cintaan, karir, keluarga, apapun yang hidup dan dihidupi, akan
ada saatnya harus berakhir. Tidak perlu mencemaskan atau
menebak-tebak, itu hanya melelahkan. Cukup begini saja : mengusahakan yang
baik, melalui dengan menertawakan kebodohan yang sudah lewat, merendahkan hati
dan meninggikan percaya diri, bersyukur, juga merelakan ketika memang harus ada yang berakhir.
Begitulah. Banyak hal yang
memaksamu menjadi semakin dewasa setiap detiknya.



0 comments:
Post a Comment