Bahkan memelukmu harus melalui
mimpi rumit dan berbelit. Ini perpisahan yang elegan, bukankah begitu? Tidak
ada isyarat yang harus ditebak-tebak. Aku bahagia. Sangat. Karena telah
diijinkan mengucapkan perpisahan dengan caraku, walapun di alam tak sadar. Begini ringkasnya.
Aku duduk di pinggir GSP. Ada
segelas teh di depanku.
“Eh, long time no see. Gimana
kabar?". Aku tersenyum terpaksa. “Hai,”
jawabku.
Kamu memegang gelas tehku lalu
menyeruputnya sedikit. “Masih nggak suka ini?” Aku menahan tangis, menggigit
bibir bawahku kuat-kuat dan menggeleng. “Seperti dulu,” kataku.
“Padahal ini
enak, lho,” katamu sambil meminumnya lagi.
“Terlalu manis,” kataku. Lalu kamu
menghabiskan tehnya.
“Kamu udah punya pacar?” tanyamu. Aku hanya diam menunduk. Kamu
mendesak lagi, “Udah? Kamu udah punya pacar? Atau jangan-jangan kamu masih
inget yang 6 bulan itu.” Aku tidak menjawab dan balik
bertanya, “Pacarmu apa kabar?”
“Sehat kok.”
Kamu mengeluarkan handphone dan
memencet-mencetnya. Lalu pamit pergi. Kamu berdiri, aku ikut berdiri.
“Boleh peluk?”
Kamu mengiyakan. Tubuhku maju
mendatangi milikmu. Tanganku naik ke leher. Aku memelekmu dalam diam. Aku
memelukmu erat. Menyandarkan kepalaku pada bahumu. Baumu tidak lagi seperti
dulu, aku tidak menemukan jejak kenangan sedikit pun. Sejenak, kamu membalas
pelukku. Erat dan hangat. Aku menahan tangisku. Sungguh. Aku merasa tidak
ingin melepaskan pelukanmu. Tapi aku tahu aku harus. Dengan sadar diri aku memerintah
diri sendiri bahwa harus aku yang melepaskan pelukan ini. Harus aku yang
beranjak menjauhkan tubuhku terlebih dulu.
Perlahan-lahan aku melonggarkan
kaitan tanganku di lehermu lalu mengangkat kepalaku yang bersandar. Aku beranjak melepas pelukanku. Perlahan tapi pasti. Lalu tersenyum sekilas dan mengucap terimakasih
samar. Lalu kamu pergi. Aku tidak menangis.
Kemudian aku terbangun. Dan teringat
mimpi sebelum kamu pergi kala itu.
Ah, betapa semesta sebegitu jengah melihat
gadisnya patah hati hingga akhirnya Ia ikut campur tangan. Mungkin memang sudah terlalu
lama aku bertahan di tempat yang salah.


0 comments:
Post a Comment