Sunday, January 13, 2013

I Wouldn't Call It Bad Dream Again


Bahkan memelukmu harus melalui mimpi rumit dan berbelit. Ini perpisahan yang elegan, bukankah begitu? Tidak ada isyarat yang harus ditebak-tebak. Aku bahagia. Sangat. Karena telah diijinkan mengucapkan perpisahan dengan caraku, walapun di alam tak sadar. Begini ringkasnya.

Aku duduk di pinggir GSP. Ada segelas teh di depanku.
“Eh, long time no see. Gimana kabar?". Aku tersenyum terpaksa. “Hai,” jawabku.
Kamu memegang gelas tehku lalu menyeruputnya sedikit. “Masih nggak suka ini?” Aku menahan tangis, menggigit bibir bawahku kuat-kuat dan menggeleng. “Seperti dulu,” kataku. 
“Padahal ini enak, lho,” katamu sambil meminumnya lagi.
“Terlalu manis,” kataku. Lalu kamu menghabiskan tehnya.
“Kamu udah punya pacar?” tanyamu. Aku hanya diam menunduk. Kamu mendesak lagi, “Udah? Kamu udah punya pacar? Atau jangan-jangan kamu masih inget yang 6 bulan itu.” Aku tidak menjawab dan balik bertanya, “Pacarmu apa kabar?”
“Sehat kok.”
Kamu mengeluarkan handphone dan memencet-mencetnya. Lalu pamit pergi. Kamu berdiri, aku ikut berdiri.

“Boleh peluk?”
Kamu mengiyakan. Tubuhku maju mendatangi milikmu. Tanganku naik ke leher. Aku memelekmu dalam diam. Aku memelukmu erat. Menyandarkan kepalaku pada bahumu. Baumu tidak lagi seperti dulu, aku tidak menemukan jejak kenangan sedikit pun. Sejenak, kamu membalas pelukku. Erat dan hangat. Aku menahan tangisku. Sungguh. Aku merasa tidak ingin melepaskan pelukanmu. Tapi aku tahu aku harus. Dengan sadar diri aku memerintah diri sendiri bahwa harus aku yang melepaskan pelukan ini. Harus aku yang beranjak menjauhkan tubuhku terlebih dulu.

Perlahan-lahan aku melonggarkan kaitan tanganku di lehermu lalu mengangkat kepalaku yang bersandar. Aku beranjak melepas pelukanku. Perlahan tapi pasti. Lalu tersenyum sekilas dan mengucap terimakasih samar. Lalu kamu pergi. Aku tidak menangis.

Kemudian aku terbangun. Dan teringat mimpi sebelum kamu pergi kala itu.

Ah, betapa semesta sebegitu jengah melihat gadisnya patah hati hingga akhirnya Ia ikut campur tangan. Mungkin memang sudah terlalu lama aku bertahan di tempat yang salah. 

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com