Di dalam sini, hanya Freud yang
tau, ada sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan mengapa. Ada perasaan aneh yang
muncul setiap kali harus bertatapan. Perasaan sama yang mengaduk-aduk perutku
seperti ketika aku bertemu dengan badut-badut atau boneka besar di pasar malam. Ini
kelemahan, dan aku benci ketika ada yang mengingatkannya.
Kata orang, tataplah matanya
ketika kamu sedang berbicara dengan orang lain, itu untuk menunjukkan rasa
sopan dan percaya diri. Mereka tidak berhak mematok standar kesopanan juga rasa
percaya diri seperti apa yang harus aku punya.
Hingga muncul sesi wawancara ke dua
dengan Bapak di kedai, yang mengobrak-abrik semesta keyakinanku. Aku menangis sepanjang jalan
selokan sampai rumah Honi, dan masih ingin merengek.
Bahkan ketika kamu berpamitan
padaku waktu itu, aku tetap tidak berani menatap matamu, J. Karena pasti ada
kejujuran di keduanya. Dan hanya ada rasa benci di kedua milikku. Benci karena
tidak bisa menahanmu untuk tetap tinggal.
Aku hampir menangis lagi di kamar
Honi. Mengingat “Kenapa kamu tidak mau menatap mata saya?” di sesi wawancara
tadi.
Aku bukan tidak mau, aku tidak
bisa. Sungguh. Aku juga ingin memeluk badut-badut atau boneka besar yang berkeliaran
di pasar malam, jika aku bisa. Aku juga ingin menatap matamu, J, malam itu,
demi mendapatkan semua jawaban yang belum selesai. Tapi aku tidak pernah
melakukannya.
Atau di malam-malam yang lain,
bahkan saat kamu memintaku untuk menatap matamu. Aku tidak pernah sanggup
melakukannya. Dan itu meninggalakan sesal di hari ini.


0 comments:
Post a Comment