Tuesday, July 3, 2012

Look At Its Eyes

Aku menyadari ini sejak lama. Ada yang membuat nafasku satu-satu setiap kali muncul sepasang mata tepat di hadapanku. Milik siapa saja. Termasuk milikmu, J.

Di dalam sini, hanya Freud yang tau, ada sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan mengapa. Ada perasaan aneh yang muncul setiap kali harus bertatapan. Perasaan sama yang mengaduk-aduk perutku seperti ketika aku bertemu dengan badut-badut atau boneka besar di pasar malam. Ini kelemahan, dan aku benci ketika ada yang mengingatkannya.

Kata orang, tataplah matanya ketika kamu sedang berbicara dengan orang lain, itu untuk menunjukkan rasa sopan dan percaya diri. Mereka tidak berhak mematok standar kesopanan juga rasa percaya diri seperti apa yang harus aku punya.

Hingga muncul sesi wawancara ke dua dengan Bapak di kedai, yang mengobrak-abrik semesta keyakinanku. Aku menangis sepanjang jalan selokan sampai rumah Honi, dan masih ingin merengek.

Bahkan ketika kamu berpamitan padaku waktu itu, aku tetap tidak berani menatap matamu, J. Karena pasti ada kejujuran di keduanya. Dan hanya ada rasa benci di kedua milikku. Benci karena tidak bisa menahanmu untuk tetap tinggal. 


Aku hampir menangis lagi di kamar Honi. Mengingat “Kenapa kamu tidak mau menatap mata saya?” di sesi wawancara tadi.

Aku bukan tidak mau, aku tidak bisa. Sungguh. Aku juga ingin memeluk badut-badut atau boneka besar yang berkeliaran di pasar malam, jika aku bisa. Aku juga ingin menatap matamu, J, malam itu, demi mendapatkan semua jawaban yang belum selesai. Tapi aku tidak pernah melakukannya.

Atau di malam-malam yang lain, bahkan saat kamu memintaku untuk menatap matamu. Aku tidak pernah sanggup melakukannya. Dan itu meninggalakan sesal di hari ini.

Aku bukan tidak mau, aku tidak bisa. Sungguh.

gambar diambil dari sini

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com