Jumat siang, aku terpaksa dengan
sangat digiring ke IGD karena masalah sepele. Ada serangga kecil yang tanpa
sengaja terinjak jari tengah kaki kanan. Sakitnya luar biasa. Sampai harus menahan tangis. Di IGD bukannya langsung ditangani, malah ditanya-tanya dulu.
Namanya siapa, Mbak? Alamat? Umur?
Pekerjaan? Lalu satu pertanyaan paling menyebalkan yang bahkan harus diulang 3
kali. Agama?
Aku hampir bilang Shinto atau
Konghuchu atau Kejawen sekalian. Agama mbak? Kali ini pengen gamparin si
suster. Mbak? Agamanya apa?
Mungkin, kalau aku bilang ‘nggak
ada, suster’, seharian itu kakiku tidak akan ditangani di IGD. Atau malah
langsung disepak keluar rumah sakit. Betapa, pertanyaan agama adalah tidak
sopan untuk ditanyakan, kecuali kalian siap mendengar apapun jawabannya.
Sabtu pagi buru-buru ke salon
dekat rumah. Janjiannya, sih jam setengah 6, tapi akhirnya baru nongol di salon
jam setengah 7. Adalah mengerikan ternyata, karena total bedak yang dipakai di
wajahku ada lima lapis. Belum lagi bulu mata, belum lagi sanggulnya. Demi acara
wisuda.
Hari itu aku sedang tidak ingin
berpura-pura untuk apapun. Siangnya ada yang luntur di bawah mata terkena
bercak air mata.

0 comments:
Post a Comment