Wednesday, May 30, 2012

..di Kaca Cembung yang Bisa Pecah Sewaktu-waktu

Jarak melebar. 

Kita saling berjalan berjingkat tanpa suara. Berlainan arah. Entah siapa yang memulai. Ketika aku sadar, aku sudah berpunggung-punggungan denganmu. Lalu kamu berbalik, sekedar menyapa dan menegaskan berkas kenangan. Aku tidak perlu membalikkan punggungku. Ada spion kecil yang menampakkanmu sedang tersenyum samar. Kamu yang melambai dengan kode ‘aku baik-baik saja, semoga kamu juga’.

Dan adegan ini yang paling aku suka. Aku melambaikan tangan dengan tetap menghadap depan. Sambil sebisaku, mengirim kode balik ‘ya, aku tau. Aku juga baik-baik saja’. Seperti yang aku janjikan.

Tiba-tiba rupamu hanya seperti noktah kecil. Kabur dan buram. Ah, brengsek. Ada butiran bening yang mengumpul di sudut mataku mengahalangi pandang. Aku tidak menangis. Hampir.

gambar diambil dari sini

Aku tidak perlu membalikkan punggungku. Karena jika iya, pasti aku ingin berlari menujumu demi sebersit rasa rindu yang pilu. Yang mungkin tidak kau sambut hangat. Aku tidak perlu membalikkan punggungku. Biar kita seri. Aku tidak ingin kalah dan berkubang dalam rasa sakit hati, seumur hidup.

Cukup aku menyimpanmu di kaca cembung yang bisa pecah sewaktu-waktu. Yang maya, tak terjangkau tapi ada. 

Cukup. 

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com