Kita saling berjalan berjingkat tanpa suara.
Berlainan arah. Entah siapa yang memulai. Ketika aku sadar, aku sudah
berpunggung-punggungan denganmu. Lalu kamu berbalik, sekedar menyapa dan
menegaskan berkas kenangan. Aku tidak perlu membalikkan punggungku. Ada spion
kecil yang menampakkanmu sedang tersenyum samar. Kamu yang melambai dengan kode
‘aku baik-baik saja, semoga kamu juga’.
Dan adegan ini yang paling aku suka. Aku melambaikan tangan
dengan tetap menghadap depan. Sambil sebisaku, mengirim kode balik ‘ya, aku
tau. Aku juga baik-baik saja’. Seperti yang aku janjikan.
Tiba-tiba rupamu hanya seperti noktah kecil. Kabur dan
buram. Ah, brengsek. Ada butiran bening yang mengumpul di sudut mataku
mengahalangi pandang. Aku tidak menangis. Hampir.
Aku tidak perlu membalikkan punggungku. Karena jika iya,
pasti aku ingin berlari menujumu demi sebersit rasa rindu yang pilu. Yang
mungkin tidak kau sambut hangat. Aku tidak perlu membalikkan punggungku. Biar
kita seri. Aku tidak ingin kalah dan berkubang dalam rasa sakit hati, seumur
hidup.
Cukup aku menyimpanmu di kaca cembung yang bisa pecah
sewaktu-waktu. Yang maya, tak terjangkau tapi ada.
Cukup.


0 comments:
Post a Comment