Kamu melambai pada El Maut dan
berbisik bahwa kamu sudah siap. Semesta mengatakan bahwa kamu tidak memiliki
pilihan lain. Salah. Mungkin memang Dia yang memutuskan, tapi kamulah yang
memilih dengan cara seperti apa. Karena, dengarlah cantik, sesungguhnya kematian
bukanlah kekalahan. Kematian adalah kesembuhan yang berbeda bentuk, yang
membebaskan segala rasa sakit dan mengangkat tinggi-tinggi segala bentuk
perjuangan.
Sudah lewat 40 hari. Katanya,
kamu sudah tidak ada di sekitar kami. Katanya, kamu sudah berjalan menuju
tempat yang berbeda, entah dimana. Kataku, kamu bahagia, dan sudah tidak lagi membutuhkan dimensi waktu dan ruang. Kamu bahagia, itu cukup.
Terimakasih sudah menunjukkan
padaku tentang bertahan dan melawan. Tentang bagaimana memalingkan muka saat
ada yang menatap iba. Bukankah kita, kamu, dan aku bukan orang lemah yang pantas
dikasihani?
Selamat jalan.
Titip salam untuk Tuhan, dariku,
dan dari mereka yang sedang berjuang melawan serangan kanker darah sepertimu
dulu.
Untuk adik yang terkasih, Brigita Dwi Anindya P.

4 comments:
merinding aku bacanya cik...
aku juga merinding nulisnya mbak hehe
mbag ucig kereeeeeeen :*
[melihat sisi lain dr diri mu yg biasa mbag]
errr jangan lebay adek -________-
Post a Comment