“Aku pasti bilang bye kalau aku mau pergi. Aku janji,” –J
Aku
tersenyum lalu memelukmu. Ada butir bening, juga mata berkaca-kaca yang hanya
terlihat saat aku membenamkan kepalaku di bahumu. Juga rasa sakit.
***
Aku
percaya.
Kamu
tidak akan menyelinap diam-diam di belakangku. Membawa setumpuk kenangan dan
meninggalkan kekosongan untukku, untuk entah berapa lama. Kamu tidak akan.
Aku
percaya.
Karena
hanya satu janji ini yang akan aku minta nantinya saat sudah terlalu payah dan
sakit untuk menerima. Jika hatimu berpindah, jika tubuhmu menetap, atau ada
tangan lain yang kamu cari-cari untuk digenggam selain milikku. Aku akan tahu,
darimu. Jika memelukmu adalah menyakiti
yang lain, jika bibirmu tidak lagi membutuhkan milikku, atau kamu tidak lagi
mengatakan “pasti abis hujan-hujanan” saat aku flu. Kamu akan menyampaikan
dengan lugas, dengan cerdas, padaku di detik pertama.
Kita
akan berjabat tangan, lalu saling melambai di persimpangan, mungkin. Atau
berpelukan untuk terakhir kali. Lalu membelok, berjalan berlainan arah, mungkin
juga satu arah tapi dengan jalan yang berbeda. Aku tidak tahu. Dan kita
berpisah, dengan anggun.
Jika
hari itu memang harus tiba, aku tidak akan menangis. Tidak di depanmu. Aku akan
melakukannya diam-diam.
Aku
percaya.
Jika
kamu memang ingin pergi, tidak peduli berapa lama waktu yang sudah basi
terlalui, tidak peduli berapa banyak tumpukan rindu yang kutabung, tidak peduli.. tidak usah pedulikan apapun. Selama kamu tidak membuatku menebak-nebak
setelahnya.
***
“Aku juga akan mengatakannya jika aku akan pergi.
Dan aku akan tetap baik-baik saja,” –me
Dan aku akan tetap baik-baik saja,” –me
Detik
itu, aku sungguh tidak ingin melepaskan pelukanmu.

0 comments:
Post a Comment