Wednesday, April 25, 2012

Bulan ke Enam


“Aku pasti bilang bye kalau aku mau pergi. Aku janji,” –J

Aku tersenyum lalu memelukmu. Ada butir bening, juga mata berkaca-kaca yang hanya terlihat saat aku membenamkan kepalaku di bahumu. Juga rasa sakit.
***
Aku percaya.
Kamu tidak akan menyelinap diam-diam di belakangku. Membawa setumpuk kenangan dan meninggalkan kekosongan untukku, untuk entah berapa lama. Kamu tidak akan.

Aku percaya.
Karena hanya satu janji ini yang akan aku minta nantinya saat sudah terlalu payah dan sakit untuk menerima. Jika hatimu berpindah, jika tubuhmu menetap, atau ada tangan lain yang kamu cari-cari untuk digenggam selain milikku. Aku akan tahu, darimu.  Jika memelukmu adalah menyakiti yang lain, jika bibirmu tidak lagi membutuhkan milikku, atau kamu tidak lagi mengatakan “pasti abis hujan-hujanan” saat aku flu. Kamu akan menyampaikan dengan lugas, dengan cerdas, padaku di detik pertama.

Kita akan berjabat tangan, lalu saling melambai di persimpangan, mungkin. Atau berpelukan untuk terakhir kali. Lalu membelok, berjalan berlainan arah, mungkin juga satu arah tapi dengan jalan yang berbeda. Aku tidak tahu. Dan kita berpisah, dengan anggun.

Jika hari itu memang harus tiba, aku tidak akan menangis. Tidak di depanmu. Aku akan melakukannya diam-diam.

Aku percaya.
Jika kamu memang ingin pergi, tidak peduli berapa lama waktu yang sudah basi terlalui, tidak peduli berapa banyak tumpukan rindu yang kutabung, tidak peduli.. tidak usah pedulikan apapun. Selama kamu tidak membuatku menebak-nebak setelahnya.
***

“Aku juga akan mengatakannya jika aku akan pergi.
Dan aku akan tetap baik-baik saja,” –me

Detik itu, aku sungguh tidak ingin melepaskan pelukanmu.

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com