Selang waktu, dia mendatangiku.
Mengatakan bahwa kamu adalah miliknya. Untuk
apa kamu datang padaku? tanyaku. Dan dia menjawab, karena aku akan mengahapus kamu, semua tentangmu yang ada padanya.
Aku menggeleng dan bertanya, apa yang harus dihapus? Bukankah jika ia
bersamamu, aku hanya menjadi seonggok kenangan? Kenapa harus dihapus? Tidak
bolehkah sedikit tentangku menetap padanya, hanya sekedar ingat bahwa ia pernah
bersamaku?
Dia menggeleng. Tidak. Untuk apa kamu tetap tinggal? Aku
tidak mengizinkan, bahkan sedikit saja tentangmu. Dia tidak boleh kembali
menoleh ke belakang dan menatapmu lagi. Dia milikku.
Aku kembali melihat kalian
berdansa di tengah ruangan. Kamu terlihat sangat tampan dengan tuxedo hitam dan
dasi kupu-kupu. Aku berteriak memanggil namamu. Berkali-kali, J. Kamu tidak
mendengarku. Kamu tidak menoleh ke arahku.
Dan aku terbangun, dengan nafas
tersengal-sengal, dengan tangan dingin berkeringat. Aku menelan ludah dan
menenangkan diri. Menarik nafas panjang-panjang dan dalam.
Apapun yang terjadi tadi hanya
mimpi. Hanya sebuah mimpi.
Tapi, kenapa mataku basah?
Pulanglah, J. Aku sungguh merindukanmu.
gambar diambil dari sini


0 comments:
Post a Comment