Hari itu, aku sudah lupa tanggal
berapa, yang pasti masih awal tahun 2013. Di depan laptopku satu-satunya, aku
mencari-cari tulisan menarik yang bisa dibaca. Aku menemukannya secara tidak
sengaja. Sebuah cerita pendek pada edisi minggu kedua bulan Januari di Media
Indonesia. Judulnya ‘Sepanjang Braga’. Dan aku jatuh cinta, begitu saja.
Entah sudah berapa kali aku
membaca ulang tulisan Kurnia Effendi itu. Setiap kali satu kalimat selesai
terlafalkan, getar hangat selalu menyusup memancar diam-diam. Ada suasana yang
entah bagaimana tidak dapat aku jelaskan. Aku tidak punya ikatan emosional apa pun
pada Braga maupun Effendi. Aku juga tidak punya ikatan emosional apa pun dengan lukisan,
seingatku, sejauh ini. Maka aku memutuskan untuk berhenti mencari-cari apa yang
membuatku jatuh hati pada cerita itu.
Lalu tiba-tiba, hari ini,
terhitung dua tahun lebih setelah cerita itu pertama kali kubaca, aku jatuh cinta
lagi. Aku membaca ulang Sepanjang Braga karena begitu rindu. Setelahnya, baru aku
tahu bahwa ada tulisan lain. Bahwa Sepanjang Braga tidak hanya satu. Aku
mencari-cari, dan menemukan beberapa.
Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana rasanya. Semua tulisan itu membuatku jatuh cinta. Entah bagaimana.
Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana rasanya. Semua tulisan itu membuatku jatuh cinta. Entah bagaimana.
Akhirnya aku biarkan saja.
Cukup aku simpan pada salah satu file diantara setumpuk lainnya dalam hardisk
sempit ini. Biar sewaktu-waktu aku bisa membaca ulang, dan merekahkan rasa
hangat atas sebuah cerita. Maka, teruslah menulis, Kurnia Effendi. Nyawa
Sepanjang Bragamu luar biasa. Ia mengundang perasaan akan mengingat
memorabilia, entah yang mana. Dan dengan begitu, aku tidak perlu berduka.
Aku bahagia, hanya dengan membaca.

0 comments:
Post a Comment