Kita bertemu pada sebuah pameran
lukisan. Namun tidak saling memperhatikan. Kamu terlihat membosankan di antara
segerombol orang yang gayanya serupa. Aku menolehkan kepala dan sejenak
memperhatikan, hanya karena kamu maju ke depan ketika MC memanggil nama ketua
komunitas pembuat pameran itu. Tapi itu hanya sejenak karena terlalu banyak hal
lain yang membuatku lebih tertarik.
Lalu kita terkoneksi, oleh
hubungan profesional, tentu saja. Dan entah bagaimana, kita sempat mengobrol dari sebelum tengah malam hingga subuh. Obrolan panjang pertama yang
bahasannya adalah tentang psikoanalisis dalam sastra dan seni rupa. Obrolan
panjang berikutnya terus menerus terjadi, lalu pada yang kesekian kamu baru
bertanya, “Kamu dari mana asalnya? Punya kakak atau adek?”
Dan aku menahan diri untuk tidak
tertawa terbahak-bahak. Basa-basi busuk yang harusnya muncul di awal malah baru
keluar entah setelah sekian lama kita mendedah teori ini itu dengan belepotan.
Setelahnya kita menonton konser mini yang penuh orang. Makan malam. Saling meminjamkan
buku. Nongkrong sambil minum bir. Diskusi. Mengunjungi pertunjukkan. Begitulah.
Kita bertemu pada sebuah pameran
lukisan. Namun tidak saling memperhatikan.
Aku tidak merekam ingatan
mengenai jantung yang berdetak lebih cepat atau napas yang serasa hilang di pertemuan pertama kita. Pun tidak ada tendensi atas relasi yang lebih dekat setelahnya. Tapi sampai hari
ini, rasa nyaman menyelinap dan tidak pernah hilang. Sampai hari ini, aku tetap
tidak ingin menghitung-hitung soal apa pun.
Kita bertemu pada sebuah pameran
lukisan. Namun tidak saling memperhatikan. Sampai akhirnya kita saling
menemukan, saling jatuh cinta.

0 comments:
Post a Comment