Friday, March 13, 2015

Pada Sebuah Pameran Lukisan

Kita bertemu pada sebuah pameran lukisan. Namun tidak saling memperhatikan. Kamu terlihat membosankan di antara segerombol orang yang gayanya serupa. Aku menolehkan kepala dan sejenak memperhatikan, hanya karena kamu maju ke depan ketika MC memanggil nama ketua komunitas pembuat pameran itu. Tapi itu hanya sejenak karena terlalu banyak hal lain yang membuatku lebih tertarik. 

Lalu kita terkoneksi, oleh hubungan profesional, tentu saja. Dan entah bagaimana, kita sempat mengobrol dari sebelum tengah malam hingga subuh. Obrolan panjang pertama yang bahasannya adalah tentang psikoanalisis dalam sastra dan seni rupa. Obrolan panjang berikutnya terus menerus terjadi, lalu pada yang kesekian kamu baru bertanya, “Kamu dari mana asalnya? Punya kakak atau adek?”

Dan aku menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Basa-basi busuk yang harusnya muncul di awal malah baru keluar entah setelah sekian lama kita mendedah teori ini itu dengan belepotan. Setelahnya kita menonton konser mini yang penuh orang. Makan malam. Saling meminjamkan buku. Nongkrong sambil minum bir. Diskusi. Mengunjungi pertunjukkan. Begitulah.

Kita bertemu pada sebuah pameran lukisan. Namun tidak saling memperhatikan. 

Aku tidak merekam ingatan mengenai jantung yang berdetak lebih cepat atau napas yang serasa hilang di pertemuan pertama kita. Pun tidak ada tendensi atas relasi yang lebih dekat setelahnya. Tapi sampai hari ini, rasa nyaman menyelinap dan tidak pernah hilang. Sampai hari ini, aku tetap tidak ingin menghitung-hitung soal apa pun. 

Kita bertemu pada sebuah pameran lukisan. Namun tidak saling memperhatikan. Sampai akhirnya kita saling menemukan, saling jatuh cinta.

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com