Dari celah pintu
aku mengintip. Adikku tertawa bahagia sambil menggelung di pelukan ayahnya yang
sedang bercerita tentang sesuatu di negeri dongeng. Ibu muncul di belakangku,
“Mereka lucu, ya?”
Aku mengangguk
lalu ke kamar, menutup pintu, mengambil sebuah buku dan membaca. Dalam satu
helaan napas, aku merasa sedikit lega. Aku tidak perlu khawatir, jika suatu hari, aku terpaksa harus menyampaikan sesuatu yang
rumit dan panjang pada ayah. Aku bisa meminta adik menyampaikannya. Pun bila aku pergi. Aku bisa meminta adik untuk
mewakilkan pamitku. Begitu saja.


0 comments:
Post a Comment