Thursday, October 17, 2013

Celah Pintu


Dari celah pintu aku mengintip. Adikku tertawa bahagia sambil menggelung di pelukan ayahnya yang sedang bercerita tentang sesuatu di negeri dongeng. Ibu muncul di belakangku, “Mereka lucu, ya?”

Aku mengangguk lalu ke kamar, menutup pintu, mengambil sebuah buku dan membaca. Dalam satu helaan napas, aku merasa sedikit lega. Aku tidak perlu khawatir, jika suatu hari, aku terpaksa harus menyampaikan sesuatu yang rumit dan panjang pada ayah. Aku bisa meminta adik menyampaikannya. Pun bila aku pergi. Aku bisa meminta adik untuk mewakilkan pamitku. Begitu saja.




0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com