Hari itu ibu
tidak ada di rumah dan aku percaya pada ayah.
Ada satu soal
matematika, soal tolol. Ada gambar persegi panjang. Berapakah luas bangun di
samping? Aku merengek pada ayah meminta rumus, seperti yang sering aku lakukan
pada ibu. Dia tidak memberikan rumus apa-apa, tapi aku masih percaya. Dia
menyuruhku mengambil penggaris. Aku ambilkan sebuah penggaris dan masih percaya.
Besoknya, bapak guru bertanya padaku, yang
berdiri diantara teman-teman yang duduk dan semua kepalanya menghadapku. Rumusnya
bagaimana? tanya bapak guru. Aku menjawab,
pakai penggaris, Pak. Diukur semua sisinya lalu dijumlahkan. Bapak guru bertanya lagi,
siapa yang mengajarimu?
Suami ibuku, aku menjawab dan masih percaya.
Aku pulang,
membuka buku PR dan mendapat nilai 90. Aku menangis. Aku tidak pernah mendapat
nilai 90 untuk mata pelajaran matematika. Aku selalu mendapat 100. Aku melihat
satu soal yang dicoret salah. Aku menanyakan pada ibu, memintanya agar membantu menyusun
diplomasi untuk protes karena kemungkinan bapak guru tidak teliti mengoreksi.
Ibu menggeleng.
Katanya, jawabanku salah. Mana rumusnya, tanyanya. Rumus penggaris, jawabku. Siapa yang memberitahumu, tanyanya lagi.
Aku menunjuk
ayah yang sedang duduk di depan tv. Ibu menghampirinya, berbicara entah apa
lalu mereka tertawa.
Aku menangis lagi. Aku tidak
lagi percaya. Semenjak itu aku tidak lagi percaya pada ayahku.
Meski begitu, selamat ulang tahun.

0 comments:
Post a Comment