Monday, May 6, 2013

Hari Keenam Bulan Mei dan Ingatan Saat Berseragam Putih Merah

Hari itu ibu tidak ada di rumah dan aku percaya pada ayah.

Ada satu soal matematika, soal tolol. Ada gambar persegi panjang. Berapakah luas bangun di samping? Aku merengek pada ayah meminta rumus, seperti yang sering aku lakukan pada ibu. Dia tidak memberikan rumus apa-apa, tapi aku masih percaya. Dia menyuruhku mengambil penggaris. Aku ambilkan sebuah penggaris dan masih percaya.

Besoknya, bapak guru bertanya padaku, yang berdiri diantara teman-teman yang duduk dan semua kepalanya menghadapku. Rumusnya bagaimana? tanya bapak guru. Aku menjawab, pakai penggaris, Pak. Diukur semua sisinya lalu dijumlahkan. Bapak guru bertanya lagi, siapa yang mengajarimu?

Suami ibuku, aku menjawab dan masih percaya.

Aku pulang, membuka buku PR dan mendapat nilai 90. Aku menangis. Aku tidak pernah mendapat nilai 90 untuk mata pelajaran matematika. Aku selalu mendapat 100. Aku melihat satu soal yang dicoret salah. Aku menanyakan pada ibu, memintanya agar membantu menyusun diplomasi untuk protes karena kemungkinan bapak guru tidak teliti mengoreksi.

Ibu menggeleng. Katanya, jawabanku salah. Mana rumusnya, tanyanya. Rumus penggaris, jawabku. Siapa yang memberitahumu, tanyanya lagi.

Aku menunjuk ayah yang sedang duduk di depan tv. Ibu menghampirinya, berbicara entah apa lalu mereka tertawa.

Aku menangis lagi. Aku tidak lagi percaya. Semenjak itu aku tidak lagi percaya pada ayahku.

Meski begitu, selamat ulang tahun. 


0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com