Hari ini aku mengalah pada sistem brengsek yang biasanya
tunduk padaku.
gambar diambil dari sini
Aku harus tetap duduk di meja deret depan nomor dua dari
pintu untuk mengerjakan soal Bahasa Indonesia selama dua jam, meskipun aku
sudah berteriak pada semua orang bahwa aku ingin pulang.
Aku memeluk Ibu dan Ayah, lagi, setelah entah kapan terakhir
kali aku melakukannya. Akhir-akhir ini aku lebih suka memeluk J daripada
mereka. Kenapa? Karena J adalah timbal balik, sedangkan mereka selalu
melakukannya tanpa pretensi. Aku benci apapun yang membuatku terlihat lemah.
Aku harus merauti pensil kayu (demi semua kipas angin di
dunia, pensil kayu adalah benda yang harus dimusnahkan secepatnya karena global warming) gratis
dengan rautan gratis. Lalu berpikir lama akan menggunakan penghapus gratis atau
yang dibeli seharga 4500. Sebelumnya, aku tidak pernah seserius ini mengambil
keputusan. Tidak. Bahkan ketika aku memilih memberikan totalitas pada J.
Hari ini aku mengalah pada sistem brengsek yang biasanya
tunduk padaku. Juga padamu, Semesta.
Setelah empat hari terhitung dari hari ini, aku akan
memberitahu kalian bagaimana rasanya jadi mayoritas. Semoga aku bertahan sampai
hari itu. Aku hanya mengalah, bukan kalah.
Setelah keluar dari ruang ujian, aku meminta J menikahiku,
tapi dia menolak.


0 comments:
Post a Comment