Wednesday, March 21, 2012

Suatu Malam di Akhir Januari

gambar diambil dari sini

Mom     : Kenapa nggak dibawa pulang? Dia nggak mau?
Me         : Bukan. Aku yang nolak. Dia itu bangau.
Mom     : Kita apa?
Me         : Itik.
Mom     : Kenapa? Bukannya kamu yang paling keras menolak kalau kita ini itik?
Me         : Aku hanya jujur pada diri sendiri, dan padanya, melalui diam.
Mom     : Maaf, ya.
Me         : Bukan salahmu, Mom.
Mom     : Did you love him?
Me        : Not.. yet. Maybe. Entahlah. Tapi yang pasti aku lebih dulu mencintai kalian. Aku ini satu dengan kalian. Jika dia mau aku, dia juga harus mau kalian. Terpaksa ataupun sukarela.
Mom  : Kamu belum mencoba, dear. Bukankah akan lebih baik setelah kamu mengenalkannya?
Me         : Apakah aku sesuatu untuknya?
Mom     : Tapi dia sesuatu untukmu, right?
Me         : Rasanya aku sudah tahu bagaimana akhirnya, jika aku membawanya kemari.
Mom     : Anak nakal. Kamu bukan Tuhan.
Me        : Aku.. aku sudah siap terluka untuk yang satu ini. Tapi cukup aku saja, tidak kalian. Tidak lagi.

Isak tangis itu mulai terdengar. Dari kamu, yang memandangku seolah aku adalah gelas retak yang siap pecah kapan saja.

Mom     : Maaf..
Me         : Tidak. Bukan salahmu. Bukan salah masa lalumu. Tidak ada yang salah. Tenang saja.
Mom  : Siapapun pilihanmu, bagaimanapun caramu, berbahagialah. Tolong, berbahagialah. Angkat kepalamu, dan tatap dengan penuh kepastian apa yang ada di depan sana. Jika kamu tetap itik lalu dia pergi hanya karena tahu kenyataan itu, tenang saja. Masih ada yang lebih lagi di luar sana untukmu dan tidak akan pernah habis.

Dan kami menangis sambil saling berpelukan tanpa suara hingga ketiduran. Aku terjaga paginya dengan mata bengkak dan kepala yang pening setengah mati. Masih ada bau belagio tercium dari helmku. Sesaat sebelum butir bening itu menetes di pipi, sudah terdengar teriakan cempreng yang diiringi tawa. “Banguuuuuuuuun. Mau minum susu apa kopi? Kan tadi malem begadang jadi mending kopi, ya? Siapa tau nanti di sekolah ngantuk?”

Aku tahu detik itu juga, akan selalu ada kamu, Ibu, yang mencintaiku, jika dia tidak :’) 

2 comments:

ketik ulang said...

kereen,,

Ucig W said...

:')

Post a Comment

 
 
Copyright © rollercoaster
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com