gambar diambil dari sini
Kamu menyebutku sebagai merah. Aku tidak meralat, karena itu membuat banyak hal yang seharusnya menyakitkan menjadi berbalik menyenangkan. Segalanya dinikmati dalam kepura-puraan. Namun, semakin lama keseimbangan terusik. Ada bagian-bagian depan yang harus ditampakkan. Mau tidak mau.
Tahukah? Sebenarnya aku ini
kuning. Yang bisa redup sewaktu-waktu, yang tidak disukai banyak orang, yang
berwajah seribu.
Tapi tenang saja, apapun namaku,
aku tetap warna. Yang bisa kamu gunakan untuk melukis dinding-dinding kehidupanmu.
Aku kuning, J. Dan mulai jatuh cinta padamu.

0 comments:
Post a Comment