Aku benci diriku sebagai kakak. Karena terlalu menyayangimu. Sampai-sampai bingung bagaimana caraku menyampaikan. Meski aku selalu
punya kontrol, berkat adaptasi dan hasil kebiasaan tujuh belas tahun.
Aku benci menjadi pemberani, mengumpulkan keping-keping
kegagalan untuk kupastikan tidak ada satu pun yang terduplikat ke kehidupanmu.
Terpaksa memikirkan tigaperempat apa yang terjadi esok hari untukmu. Mengalkulasi
setiap kemungkinan agar tempat dan waktumu lebih dariku.
Apa kamu mengerti? Aku membencimu. Sungguh. Aku hanya
tidak pernah bisa menerjemahkannya melalui kata-kata. Hingga terlihat seperti
kasih sayang, di matamu.
Tanyakanlah pada Tuhan. Dia lebih tau.

Karena sampai detik ini, dan banyak detik setelah aku
menulis ini, aku masih belum menerima. Aku menolak untuk duduk diam dan
menyaksikan apapun yang digariskan oleh langit. Aku ingin merubah banyak hal, karenamu. Aku mau kamu lebih menyesal, lebih gagal, lebih belajar,
lebih menjadi dewasa, lebih kalah, lebih menangis, lebih jatuh, lebih patah
hati, lebih rugi, lebih sekarat. Lebih dariku.
Aku mau kamu mendapatkan semuanya, lebih dari milikku. Semua
penderitaan. Semua rasa hancur. Semua ketiadaan. Supaya kamu lebih kuat dari padaku.
Suatu saat nanti kamu akan mengerti dengan sendirinya. Jika
langit tidak mengizinkan, percayalah. Kamu akan tetap baik-baik saja. Jika
langit menuliskan sesuatu yang lain untukmu, untuk kita, yakinlah karena itu
yang terbaik.
Hanya saja, aku tidak akan menerima. Aku menolak untuk duduk
diam dan menyaksikan apapun yang digariskan oleh langit. Aku ingin merubah
banyak hal, karenamu.
Aku ada. Berkolaborasi dengan alam untuk menjawab
pertanyaanmu sembari memberikan lebih banyak pertanyaan baru. Jangan pernah
menyerah. Aku mohon. Jangan pernah menyerah.


0 comments:
Post a Comment