gambar diambil dari sini
Tuhan menghadiahkan
malam itu dengan bungkusan kado jutaan bintang dan biru tua langit, dengan lilitan
pita kebahagian, dengan sangat anggun. Terimakasih.
"Selamat ulang tahun"
"Tapi ini kan masih tanggal 9?"
"Daripada lupa"
"Terimakasih"
Malam
itu aku adalah Cinderella. Cantik, anggun, mempesona, tanpa cacat, dan jatuh
cinta. Lonceng jam berdentang sesuai kisahnya. Waktunya meninggalkan mimpi. Aku
ingat betul pesan ibu peri. Sayangnya, aku tidak punya sepatu kaca untuk
kutinggalkan padanya. Sayang sekali.
Aku mengerti. Dia sama sekali tidak
menginginkanku, ataupun hatiku. Mungkin begitu lebih baik. Mungkin.
Karena jika rasa sakit ini berhenti mengalir, aku harus membuang banyak waktuku
(lagi) untuk berfikir bagaimana caraku
bertahan?
"Kenapa mawar?"
"Nggak tau. Lagipula,
itu 3 hari lagi juga udah layu."
Iya. Mawar yang kupegang
dengan penutup plastik luarnya. Yang harganya 12.000 per tangkainya. Mawar yang
berduri dan menyakiti. Tapi tidak yang tersembunyi di tengah relungku, yang
bibitnya kutanam sendiri dan kurawat setiap hari. Mawarku lebih kuat.
"Lima tahun ke depan,
apa masih ada kesempatan seperti ini lagi?"
"Mungkin"
"Semoga saja, ya"
Setangkai mawar merah
daerah Kota Baru - Jogjakarta
Malam hari, 09 Mei 2011
Pukul sembilan lebih
sedikit

0 comments:
Post a Comment